Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Shout Box

ReviewReviewReviewReviewReview168 Jam dalam SanderaSep 6, '07 5:33 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Mauludin Anwar dan Latief Siregar

”Saya pujikan memoar Meutya Hafid “168 Jam dalam Sandera” agar dibaca oleh wartawan, khususnya reporter televisi, radio, surat kabar dan majalah. Gaya bertutur dengan kencang, percakapan salam bathin (monologue interiure) dikaitkan dengan pengamatan cermat alam panca indera, pelaporan tanpa takut dan prasangka, penerapan kilas balik, ketegangan, konflik, solusi saat ringan (takut sama tikus), penguras air mata atau tearjerker (waktu diberitahu tentang tayangan tivi lalu menangis), berdoa pasrah, memperlihatkan kearifan, semua itu ada dalam arus dan alur cerita.



Meminjam analisa dramaturgi, “168 Jam dalam Sandera” mempunyai premisse: “Iman yang teguh sanggup mengatasi bahaya dan kesulitan”. Meutya Hafid membuktikan premisse secara cemerlang, dengan setting medan perang Irak yang sampai sekarang bakuhantam bergejolak terus.



Dan mengutip judul film aktris tenar tahun 1940-an, Janet Gaynor, saya katakan dengan tampilnya Meutya: “A Star is Born”, seorang bintang telah lahir."


H. Rosihan Anwar, Wartawan Senior



"Mengharukan dan menyentuh
Beberapa kali saya terpaksa berhenti membaca karena tak kuasa menahan tangis..
Memoar ini tidak hanya bercerita tentang ketabahan dan ketangguhan penulis dalam menghadapi cobaan berat, namun juga menyadarkan pentingnya arti kepasrahan dan penyerahan diri atas kuasa Tuhan".
Dian Sastrowardoyo, Artis dan Sarjana Filsafat




"Saya mengharapkan buku berisi pengalaman Meutya ini, dibaca oleh jurnalis, dan personil TNI Polri yang bertugas di daerah konflik.."

SB Yudhoyono, Presiden RI



ReviewReviewReviewReviewReviewIt's not blog, It's MPNov 22, '06 9:21 PM
for everyone
Category:Computers & Electronics
Product Type: Other
Manufacturer:  LS

Judul yang berkesan provokatif dan menantang ini, aku contek dari sebuah stiker yang dulu menempel di JEEP Rocky tua kesayanganku: It’s not a car, it’s JEEP. Entah siapa menyontek siapa, kalimat senada dulu juga pernah menempeli kaca kamar kost-an: It’s not a campus, it’s ITB.


Dua jargon tadi, menunjukkan “keangkuhan”, seolah ingin menunjuk bahwa JEEP dan ITB more than just car dan campus. Padahal jeep juga mobil, ITB juga kampus. Tapi jangan ajak pencinta jeep berdebat soal ini. Apalagi temanku yang rela mencari hardtop tua hingga ke gunung, dan menganggap jeep adalah kehidupan dengan memasang stiker: eat, sleep, live, jeep. Bedanya apa? Pokok’e beda. Jeep, je. Aku sendiri kalau ditanya, apa sih bedanya kampusmu dengan kampus lain, aku hanya bisa jelaskan, ‘kalo mau masuk kampus ati2 keinjak tai kuda’. Atau, ‘kalo lagi kuliah asyik, ditemani suara siamang’. Soalnya kampus ITB hanya dipisah jalan dengan kebon binatang. Dan teman2ku akan mengejarku sambil berujar: dasar nasakom!. Ini merujuk IP-ku yang hanya berkisar satu koma hehe.


Kembali ke laptop, eh MP. Banyak kesaksian dari pengguna situs personal gratisan, bahwa multiply berbeda dengan yang lain. Aku setuju belaka. Dulu aku pernah majang nama di 20m.com, lalu karena terlalu banyak iklan, pindah ke Blogspot. Pekenalanku dengan MP, bermula ketika menjejak kaki di Inggris, September 2004. Ada banyak kebetulan. Kebetulan banyak waktu luang, akses internet 24 jam dan ewes..ewesss.., dan aku perlu memajang foto2 ku di Inggris. (boleh dong ngesok, aku khan orang pertama dari kampungku di pelosok Sumatera Utara sana, yang pernah ke Inggris hihihi...)

.

Awalnya aku berniat menulis di Blogspot, dan memajang foto di MP. Tapi ada perkembangan non teknis yang tak pernah kuduga: di komunitas MP ada persaudaraan. Blogspot juga punya fitur reply, juga bilik teriak sebagai sarana komunikasi. Tapi entahlah, aku merasakan hal lain saja. Perlahan catatan ringan angin2an ku ada yang membaca. Ada yang minta bikinin background segala, minta pasangin musik, bahkan ada yang minta kasi tau cara nge-link (waktu itu fitur background dan link di jurnal belum tersedia). Bahkan ada yang memintaku untuk merapikan karena ingin dimuat di medianya. Percayalah, ini hanya karena kami berteman baik, KKN, dan mereka butuh pengganjal untuk halaman kosong.


Waktu berjalan, saudara yang me-reply pun bertambah. Bahkan ada yang sekitar 10-an reply-er setia. Kalau suatu masa, ada penerbit yang sudah mau bangkrut menawariku membukukan MP-ku, nama2 kalian akan aku masukkan di ucapan terima kasih hehe. Jumlah kontak pun bertambah. Tapi ada yang ‘setia’ ada pula yang sekelebat. Banyak nama yang menjejak jurnalku hanya ketika ia meng-invite saja. Fakta inilah yang mendorongku menulis Sawang sinawang


Menurutku, yang terpenting dari kesertaan di MP adalah komunikasi dan silaturrahmi. Maka aku akan mendebat orang yang bilang “reply itu tak penting”. Mungkin karena aku bukan penulis yang baik, sehingga kesediaan orang membuang waktu untuk membaca dan mengomentari, kuanggap sebagai penghargaan personal yang harus dibalas. Mungkin juga karena aku bukan selebriti, yang merasa apapun kegiatannya harus diketahui orang lain.


MP menyediakan cara, bahwa tulisan kita otomatis menjangkau orang yang menjadi kontak. Bagi yang merasa tulisannya harus dibaca orang lain, ini adalah cara terbaik mengejar hits.Ada yang pernah mengajariku, ‘bos, kalo gak mau inbox penuh, gampang, Ganti aja setting-nya. Ini tipsnya bla..bla...’. Aduh bos, ini mah usul pintar-pintar pandir. Pintar, bahwa anda meraup keuntungan dari sebuah persahabatan, sekaligus pandir karena anda menghilangkan esensi sebuah persahabatan: menjenguk-dijenguk, melihat-dilihat, menyapa-disapa etc.


Begitulah, mau menyebut ini MP-ku, ini blog-ku, ini web-ku monggo kerso. Hendaknyalah istilah itu tidak merusak hubungan persaudaraan. Semoga pula tulisan ini tidak memicu kemarahan padaku yang awam ini. Meski judulnya provokatif, ini bukanlah provokasi. Sekali lagi, ini hanya tulisan ringan angin2an tiada berguna. Tabeek


ReviewMenabur aib menuai duitAug 7, '06 12:30 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy

Menjerit, bergetar, lalu mati. Aku biarkan. Aku sibuk dengan pembayaran jasa angkot, yang kutumpangi dari Rambutan ke Depok. Setelah turun di Kober, baru kubaca sms itu:
“Abang dimana?”
“Masih di kantor”, jawabku iseng.
“Liat Trans deh. Masak ada acara tentang selingkuh, yang main Gusti Randa ama Nia Paramitha” balas istriku.
Tak kujawab lagi, karena aku sudah tiba di depan pintu. Setelah sebuah cubitan mendarat di perutku yang backpack itu, kami lalu memelototi layar kaca. Tepat dibagian, Nia Paramitha (Mia, dalam sinetron itu) mengaku kepada suaminya Gustaf (Gusti Randha), ia “begituan” dengan orang lain, yang membayar 7 juta.

Selebriti juga Manusia, nama acara itu. Menceritakan kembali, bak reka ulang, kehidupan asliperselingkuhan berujung perceraian, keluarga Gusti Randha dan Nia Paramitha. Tokoh lain yang sempat meramaikan kisah itu, hanya diplesetkan sedikit. Seperti Ketua Umum PAN, Sutrisno Bachir, menjadi Sutrimo Bahar. PAN pun diplesetkan menjadi PAM (Partai Amat Moralis, kalau tak salah). Di ujung cerita, dituliskan bahwa “Ini hanya cerita, jika ada kesamaan setting dan nama hanya kebetulan belaka”. Sempurnalah televisi membodohi, sekaligus menganggap bodoh bangsa ini.

Kami berdua pun sepakat, sama-sama kagum kepada Gusti Randha dan mantan istrinya.Betapa profesionalnya mereka. Sudah berkelahi, bercerai, lalu diminta main bersama memainkan kisah pilu mereka. Ah, mereka kan anak panggung. Yang bisa bersandiwara, menyimpan kedukaan.

”Jangan2, perceraian mereka cuma sandiwara untuk meraih popularitas”, timpal Ari. Boleh jadi ya. Sebagai selebriti, ketika kasus itu bergulir, atribusi keartisan Gusti Randha hanya “pemeran Samsul Bahri dalam sinetron Siti Nurbaya”. Sudah lampau berapa tahun itu. Sadarkah mereka, bahwa dikelilingi anak, orang tua, adik, keponakan yang bukan dalam lingkup panggung sandiwara itu. Boleh jadi, pagi ini di sekolah, anak-anak mereka sudah dikatai temannya, “Ibu lu dibayar 7 juta ya”

Banyak sekali kasus macam ini, di layar bertajuk infotainment itu. Kemarin, aku sempat liat, artis siapa itu, tidak direstui ibunya dengan pacar yang sekarang. Ibu si cewek kok ya ngomongnya ke infotainment “Saya pengen anak saya dapat pengusaha muda yang sukses”. Duhai, tidakkah dia pikirkan betapa sakitnya hati keluarga pacar anaknya.

Maka, ketika NU mengeluarkan fatwa haram terhadap acara bernama infotainment, aku setuju belaka. Bukan soal agama, tapi secara jurnalistik pun acara ini tak patut. Tapi, para pemilik imperium infotainment pun, tak kalah sengit. Berlindung dibalik jargon jurnalisme hak memperoleh informasi dan hak meliput --meski topeng sesungguhnya adalah tumpukan duit--, mereka menolak.

Lalu apa setelah ada label haram? Entahlah, aku hanya bisa berdoa, semoga tidak ada sinetron Rahasia Ilahi, yang mengangkat kisah “Wartawan infotainment, mati terbelit kaset”. Ihh.....tatut..



ReviewReviewAlmanak, antara Cinta dan Blok Jan 29, '06 11:51 PM
for everyone
Category:Other

Mendung tak kunjung berubah wujud. Hanya menyisakan udara pengap. Bertelanjang dada aku bersantap malam ala kampung dengan asyik. Separuh kaki naik, tangan mencacah ayam hingga ke tulang. Lalu, sesuara merdu menyapa. Aha.., ia datang menyerta almanak.


Hujan akhirnya mengguyur. Berteman mie rebus panas, kami pun bercerita ngalor ngidul. Sambil memelototi satu persatu gambar-gambar headshot yang teratur rapi. Wuiii.. gambarku menclok di blok cewek-cewek. Kiri kanan cewek, atas bawah wanita. Betul-betul blok penuh cinta (ehmm). Pasti ini kelakuan tukang lei-ot yang memang penuh cinta itu.



Tapi lhadalah, di bagian dalam, halaman bertajuk "LOVE", fotoku dipasang bersama nyonyahe. Mesra pula. Aku khusnuzzon, bersangka baik, pasti ini kelakuan Kyai Ingwuri, yang menghendakiku menjauhi poligami. Halah.. iki opo maning. Kacang dan sumpia pun berpindah dari toples ke perut. Tapi hujan belum juga menyudahi diri.
Tapi si ibu sedang dinanti "seseorang" di halte stasiun UI. Entah kenapa abang itu tak diajaknya saja ke rumah kami. Ia pulang dengan membelah jalan yang blok dihantam hujan. Dibawah gerai gerimis ia berlari mengejar malam. Demi si abang, eh demi kalender yang penuh cinta.


ReviewReviewReviewGive Me A Word with YouNov 7, '04 5:53 PM
for everyone
Category:Other



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help