Pagi. Dingin. Di atas bus yang nyaman. Cara terenak menikmatinya adalah memejam mata. Jangan harap terlelap. Perjalanan hanya 30 menit. Lalu, biasanya memasuki kawasan kampus, bus sering direm sontak. Biasanya, ada tupai atau kelinci iseng menyeberang sembarang tempat, dan tanpa lihat kiri kanan. Dasar hewan. Mencoba memejam lagi. Ada getar di saku celana. Siapa yang pagi-pagi begini sudah bersilaturrahmi. Padahal tadi istri segera melanjut tidur setelah aku pergi. Dilayar tak ada nomor tercatat. Pasti dari Indonesia. Disana saat ini hampir pukul 1 siang.
"Alloww... Mister Siregar," suara renyah Indah, teman bekas sekantor, memecah pagi. Mungkin ia iseng, karena suntuk mencari tamu untuk program Metro Hari Ini. "Lagi di tube ya mas,". "Lagi di bus, disini khan gak ada tube". "Gak takut dicopet nih ngeluarin hape"
Kami lalu terbahak bersama. Indah pernah tinggal di Australia, dan pastilah ia tau bagaimana amannya bus dibanding di Jakarta. Lagian, siapa juga yang mau dengan Siemens S-45 yang sudah uzur, layar retak, dan sering mendadak mati sendiri itu. Di depanku, ada yang bersayang-sayangan dengan PDA-Phone. Disebelah ada yang mantuk-mantuk mendengarkan musik dari i-Pod. Melihat bebasnya penumpang memamerkan barang elektronik, suatu kali dikepalaku terlintas ide "Operasi Senen". Mencopet. Bagaimana caranya ya. Bukankah kondisi paling oke buat operasi ini, saat berdesakan dan impit-impitan. Batal. Merampok. Bagaimana caranya keluar dari bus. Pintu hanya ada satu, di depan. Menggunakan sistem elektronis dengan kendali di sopir. Memaksa sopir agar membuka dengan menodong. Pasti dia tidak takut, karena posisinya aman, dilingkupi kaca. Dan ini satu lagi, kamera CCTV yang siap menghamburkan gambar. Gak jadi ah.
Kata "gak takut dicopet" itu pun terngiang. Memang salah satu "kesenangan" saat ini adalah rasa bebas dari ketakutan. Tak cuma di bus. Tapi juga di kota, di stasiun, dan di rumah. Nyaris tidak ada rumah yang memakai teralis disini.
Kewaspadaan pun tak terasah. Ada lagi rasa yang hampir hilang: iba. Kapan melihat anak kecil mengamen di terik matahari. Kapan bersua anak kecil yang dijemur oleh seorang ibu, demi mengharap belas orang lalu. Kapan melihat pengemis renta, yang kelelahan hingga terduduk di trotoar bermandikan debu jalanan.
Aku tak ingin rasa waspada dan iba itu lekang hanya karena kesenangan sesaat. Akan tiba saatnya harus kembali ke negara tercinta. Bersua dengan segala realita itu. Setiap malam, aku memelihara dengan membaca koran ini. Setelah berita utama, opini, aku selalu melongok rubrik Metropolitan. Membaca saudara sekandung saling bunuh demi warisan, maling ayam dibakar massa, tukang ojek digorok. Ah, Indonesia-ku.
| iniaku wrote on May 11, '05, edited on May 11, '05 Siemens S-25 masih lebih canggih daripada siemens c-45 aku :)) |
 | susje wrote on May 11, '05 gak bakal deh bang ampe lupa ama waspada kalo udah balik ke tanah air.. hehehe.... jakarta... there lies a beauty in its chaos...somehow |
 | Segeralah pulang Nak, Bundo Kanduang la maimbau disiko..huehehehe |
 | susje wrote on May 11, '05 masih.. dan akan selalu dong... ;-) btw, OOT, pikiranku ini setelannya "jakartan mode: on" melulu.. sampe urusan nyetir2 segala. Makanya skr bela2in sekolah nyetir biar lebih civilized.. .alias tau aturan jalan raya.. kalo mental jakarta dipake... ampe lebaran monyet gak bakalan dapet SIM belanda negh yg ada hahaha |
 | imazahra wrote on May 11, '05, edited on May 11, '05 Iyya, Indonesia mu, ku dan kita... yg berkubang masalah.
Tadi barusan ngobrol dg teman satu rumah dosen Undip, dia juga cerita kalo sekarang dirinya menjadi paranoid membayangkan Indonesia yg amat sangat tdk aman compare dg UK. Apalagi dia bakal seenggak2nya 3 tahun disini. Sempat terlintas dalam benaknya bayang2 kematian di KRL kr seringnya membaca berita tentang matinya mahasiswa UI dg sia2 hanya krn mempertahankan tasnya yg berisi ijazah!
Duh Bang, dimanakah pemimpin2 kita? Daulat pertama sebuah negara adalah memberikan rasa aman bagi rakyatnya... |
 | lan ga semua yang bagus spt itu kan bang latief...jangan2 malah disana g pakai mencopet ala indonesia..tapi makin canggih juga kejahatannya..lagipula daripada maling hp atau yg lain2...mungkin lebih kepikiran maling yang lebih besar... so intinya sih sawang sinawang....tidak selamanya disana lebih nyaman kan?? |
 | Kewaspadaan pun tak terasah. Ada lagi rasa yang hampir hilang: iba. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Kekurangan dan Kelemahan Orang Lain ternyata diciptakan sebagai Cermin dari Nya untuk kita.
PS: kalo di Jakarta, kewaspadaan meningkat saya setuju ! Tapi kalo Rasa Iba meningkat? wah wah kayaknya dipertanyakan deh :( |
 | tianarief wrote on May 12, '05, edited on May 12, '05 kalo di jakarta, adrenalin lebih mengalir cepat, karena harus selalu waspada. dan itu ada bagusnya juga, kata seorang dokter, membuat badan jadi tambah sehat! :P |
 | aku masih inget tayangan sewaktu eef ga mau di wawancara sehubungan adanya gosip dng sandrina,  Maaf dek, saya bukan pejabat publik, yg segala sesuatunya harus dipertanggungjawabkan kepada umum. Begitu melihatnya, saya ingat sebuah pepatah: Cintaku ( kpd istri dulu) lekang oleh senang. Hehe. Soal gosip beginian, bapak ini pakarnya. |
| Takut dicopet gak Fa  disini sih gak takut bang, tp waktu pulang ke indo takut walaupun udah kuno kan hadiah dari kakakku hp-ku ada 3 skg, 2 dari kakak.. satu hadiah dari si akang waktu ultah tahun kemarin
|
 | bang.. nunggu bis ini di lego ke jakarta kapan ya? 4 tahun?, 7 tahun?.. moga-moga kameranya masih berfungsi, hahahaha.... |
| asyiknya banyak yg sayang, jadi punya hp ampe 3.  hehehe... abis punya 3 nomor mas, kegunaannya beda2 ada yg gak bisa sms ke indo, dan ada yg khusus utk sms ke yemen maklum deh *blushing* |
 | moyas wrote on May 20, '05 sebagai pemanasan, mampirlah barang 2-3 minggu di new york atau LA. pasti tiba di jakarta reculture shocknya gak terlalu gede  Keliatannya kota yg lebih cocok utk pemanasan itu New Orleans, LA waktu summer. Terutama French Quarter. Udaranya, harum semerbaknya, dll lebih deket dgn Jakarta ketimbang NYC. |
Comment deleted at the request of the author.
 | moyas wrote on May 21, '05 Makanya saya cuman buka berita utama dan opini. Itu pun sering buat dada kembang kempis, dahi mengereyit dan emosi meluap-luap. Terapinya biasanya jogging sekitar apt utk bisa kembali membaca edisi keesokan harinya :) |
 | moyas wrote on May 21, '05 Lebih pas LA kayaknya  LA di sini maksud saya negara bagian Louisiana, tempat dimana kota New Orleans berada. LA yang dimaksud Daeng Sul itu Los Angeles. Sama nama, tapi beda tempat, jadi sempat membingungkan :) |
| |