Ruangan 8x6 meter itu senyap. Padahal di dalamnya, ada sekitar 16 orang yang sedang beristirahat. Aku banting pintu sedikit keras, lalu menarik kursi dengan sebat, tapi tak cukup memancing untuk membuat mereka menoleh. Semuanya asyik dengan makanan, dan bacaan. Sesekali terdengar suara gemeresek kertas dibalik, ditingkahi kriuk kripik kentang. Selebihnya senyap. Padahal mereka teman sekerja yang sudah saling mengenal. Padahal ini adalah jam istirahat, saat bebas dari belitan rutinitas pekerjaan. Kenapa tidak bercengkerama, mengobrol, tertawa terbahak melepas suntuk.
::Membaca:: adalah pemandangan rutin di banyak tempat. Bus, ruang tunggu, terminal, kedai kopi. Tak heran, di kota Norwich yang lebih kecil dari Depok ini, ada banyak toko buku, perpustakaan umum, serta penjual koran dan majalah. Ditambah lagi, tebaran toko derma (charity shop) yang menjual aneka buku murah.
  Sekolah tenda di Aceh
Aku ingat di kotaku Rantau Prapat, Sumatera utara sana, dulu ada dua toko buku. Ketika mau berangkat ke Inggris tahun lalu, aku pulang. Ternyata tinggal satu. Itu pun sudah menjadi separuh. Separuh toko lainnya, dijadikan rumah makan dan kedai kopi. Padahal, sebagai penghasil karet, kota ini tergolong menengah ke atas. Agaknya, ini mencerminkan, budaya makan lebih populer ketimbang membaca.
Sedangkan bagi orang sini, makan juga harus sambil membaca. Jadi, istirahat makan siang itu mereka gunakan untuk membaca. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawan memiliki banyak alasan. Aku amati, mereka bisa membaca sambil makan karena menunya adalah setangkup roti, sebungkus keripik kentang, dan buah. Wajar. Coba, kalau makan siangnya ayam bakar, rendang, sambel terasi, dan makan pakai tangan. Alamat, itu buku berminyak dan bau terasi.
Ah, itu hanya alasan bisa-bisanya aku saja. Mari kita galakkan membaca. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga bangsa ini menjadi bangsa terdidik. Salah satunya, dengan banyak membaca.
 | Iyya, budaya membaca memang belum mendarah daging bagi anak2 bangsa kita. Kalau toch membaca, mereka asik membaca chiklit dan tulisan-tulisan ringan lainnya. Agaknya benar kata Cak Nun, bangsa kita adalah bangsa yang tidak serius-serius amat dalam menjalani segalanya... dan suka tertawa, termasuk mentertawakan penderitaan dan kesatiran hidup kita sendiri. Salah satunya barangkali tercermin dari jenis bacaan (chiklit, novel, komik dll) yang sekarang sedang digandrungi oleh anak2 muda yang katanya bakal jadi penerus bangsa. Konon (informasi ini saya dapat dari MP-nya tetangga) buku Cintapuccino, Gege Mengejar Cinta dan Kok Putusin Gue sudah dicetak berulangkali bahkan ada yang masuk angka belasan dengan jumlah tiras yang luar biasa. Agaknya tema yang disukai sesuai sekali dengan irama kapitalisme yang membalut angkatan muda perkotaan kita. Ada yang bilang kemudian, masih untung mau membaca... Entahlah...? |
 | robym wrote on May 2, '05 IMHO, orang indonesia suka sekali baca. masalahnya buku, toko buku, perpustakaan yg ngga memadai. |
 | fuadi wrote on May 2, '05 bang, usul nih, gimana kalau kumpulam jurnal abang ini nanti diterbitin. judulnya bisa lah "permenungan dari norwich", atau "asal usul ala medan" atau apa lah. abisnya isinya banyak yg menggelitik. cem mana bang? mainkan? |
 | robym wrote on May 2, '05 apakah "supply" toko buku yg sedikit ini, krn "demand" pembaca yg kecil  kalo dari pengalaman pribadi sih ngga :D toko buku besar di bdg/jkt dari gramedia sampe QB selalu rame. perpustakaan nasional pun waktu saya dateng rame. malah novel pop sekarang lagi meledak. penulis novel jadi punya status celebrity. kalo menurut saya sih buku/baca ini mirip film indonesia: jarang tapi sangat didambakan, begitu ada yg baru dan bagus langsung meledak. |
 | Betul Bang, untuk bisa "membaca" alam ini, salah satunya, harus dimulai dari membaca buku (tak dibatasi media: bisa hard copy, bisa pula online).
Tapi terus terang, pekerjaan sehari-hari membuat saya lebih sering menulis ketimbang membaca (alasan sebenarnya: m-a-l-e-s :P). Padahal, menurut dosen jurnalistik saya, Sahala Tua Saragih, penulis yang baik adalah pembaca yang baik). |
 | kita baru akan menyadari keberadaan kita ketika kita memikirkan diri kita dan orang lain yang ada di sekitar kita, ada atau tidaknya kita itu tidak akan berarti apa2 ketika kita tidak mampu berbuat sesuatu yang berharga bagi orang disekitar kita. hanya orang yang sadar akan dirinyalah orang yang akan sadar dan peduli pada lingkungan sekitarnya. membaca, membaca dan membaca, itulah tugas setiap pribadi manusia. membaca Diri sendiri, lingkuangan keluarga, lingkungan persahabatan, serta lingkungan sosial secara umumnya, tanpa menapikan apapun itu. Tuahan dengan segala Rahasianya harus selalu kita baca setiap gerak dan langkah yang dilakukan-Nya, hanya orang yang mampu membaca dirinyalah orang yang mampu membaca keberadaan dan maksud dari Tuhannya. |
| |