Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Blog EntryIqra', Bacalah atas Nama KemajuanmuMay 1, '05 7:12 PM
for everyone

Ruangan 8x6 meter itu senyap. Padahal di dalamnya, ada sekitar 16 orang yang sedang beristirahat. Aku banting pintu sedikit keras, lalu menarik kursi dengan sebat, tapi tak cukup memancing untuk membuat mereka menoleh. Semuanya asyik dengan makanan, dan bacaan. Sesekali terdengar suara gemeresek kertas dibalik, ditingkahi kriuk kripik kentang. Selebihnya senyap. Padahal mereka teman sekerja yang sudah saling mengenal. Padahal ini adalah jam istirahat, saat bebas dari belitan rutinitas pekerjaan. Kenapa tidak bercengkerama, mengobrol, tertawa terbahak melepas suntuk.

::Membaca:: adalah pemandangan rutin di banyak tempat. Bus, ruang tunggu, terminal, kedai kopi. Tak heran, di kota Norwich yang lebih kecil dari Depok ini, ada banyak toko buku, perpustakaan umum, serta penjual koran dan majalah. Ditambah lagi, tebaran toko derma (charity shop) yang menjual aneka buku murah.


Sekolah tenda di Aceh

Aku ingat di kotaku Rantau Prapat, Sumatera utara sana, dulu ada dua toko buku. Ketika mau berangkat ke Inggris tahun lalu, aku pulang. Ternyata tinggal satu. Itu pun sudah menjadi separuh. Separuh toko lainnya, dijadikan rumah makan dan kedai kopi. Padahal, sebagai penghasil karet, kota ini tergolong menengah ke atas. Agaknya, ini mencerminkan, budaya makan lebih populer ketimbang membaca.

Sedangkan bagi orang sini, makan juga harus sambil membaca. Jadi, istirahat makan siang itu mereka gunakan untuk membaca. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawan memiliki banyak alasan. Aku amati, mereka bisa membaca sambil makan karena menunya adalah setangkup roti, sebungkus keripik kentang, dan buah. Wajar. Coba, kalau makan siangnya ayam bakar, rendang, sambel terasi, dan makan pakai tangan. Alamat, itu buku berminyak dan bau terasi.

Ah, itu hanya alasan bisa-bisanya aku saja. Mari kita galakkan membaca. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga bangsa ini menjadi bangsa terdidik. Salah satunya, dengan banyak membaca.


18 CommentsChronological   Reverse   Threaded
imazahra wrote on May 2, '05
Iyya, budaya membaca memang belum mendarah daging bagi anak2 bangsa kita. Kalau toch membaca, mereka asik membaca chiklit dan tulisan-tulisan ringan lainnya. Agaknya benar kata Cak Nun, bangsa kita adalah bangsa yang tidak serius-serius amat dalam menjalani segalanya... dan suka tertawa, termasuk mentertawakan penderitaan dan kesatiran hidup kita sendiri. Salah satunya barangkali tercermin dari jenis bacaan (chiklit, novel, komik dll) yang sekarang sedang digandrungi oleh anak2 muda yang katanya bakal jadi penerus bangsa. Konon (informasi ini saya dapat dari MP-nya tetangga) buku Cintapuccino, Gege Mengejar Cinta dan Kok Putusin Gue sudah dicetak berulangkali bahkan ada yang masuk angka belasan dengan jumlah tiras yang luar biasa. Agaknya tema yang disukai sesuai sekali dengan irama kapitalisme yang membalut angkatan muda perkotaan kita.
Ada yang bilang kemudian, masih untung mau membaca...
Entahlah...?
robym wrote on May 2, '05
IMHO, orang indonesia suka sekali baca. masalahnya buku, toko buku, perpustakaan yg ngga memadai.
latief wrote on May 2, '05
buku Cintapuccino, Gege Mengejar Cinta dan Kok Putusin Gue sudah dicetak berulangkali bahkan ada yang masuk angka belasan dengan jumlah tiras yang luar biasa
Hehe.. ketiga pengarangnya alumni ITB lho.. (aku juga suka menertawakan hidup)
latief wrote on May 2, '05
robym said
IMHO, orang indonesia suka sekali baca. masalahnya buku, toko buku, perpustakaan yg ngga memadai.
Kang Roby, kalo masuk konteks ekonomi, apakah "supply" toko buku yg sedikit ini, krn "demand" pembaca yg kecil???
fuadi wrote on May 2, '05
bang, usul nih, gimana kalau kumpulam jurnal abang ini nanti diterbitin. judulnya bisa lah "permenungan dari norwich", atau "asal usul ala medan" atau apa lah. abisnya isinya banyak yg menggelitik. cem mana bang? mainkan?
robym wrote on May 2, '05
latief said
apakah "supply" toko buku yg sedikit ini, krn "demand" pembaca yg kecil
kalo dari pengalaman pribadi sih ngga :D toko buku besar di bdg/jkt dari gramedia sampe QB selalu rame. perpustakaan nasional pun waktu saya dateng rame. malah novel pop sekarang lagi meledak. penulis novel jadi punya status celebrity.
kalo menurut saya sih buku/baca ini mirip film indonesia: jarang tapi sangat didambakan, begitu ada yg baru dan bagus langsung meledak.
latief wrote on May 2, '05
fuadi said
judulnya bisa lah "permenungan dari norwich", atau "asal usul ala medan" atau apa lah.
Bisa sajo Uda ko. Enaknya, "Orang kampung lihat kota" ha..ha..
iwan95 wrote on May 2, '05
Agaknya tema yang disukai sesuai sekali dengan irama kapitalisme yang membalut angkatan muda perkotaan kita.
Wah Wah mBak Ima =))
komennya tajem euy ! :P

tambahan : bukan hanya angkatan muda perkotaan lho...pedesaan juga gak ada beda kok, kebetulan aja beda di sarana ekspresi....
tianarief wrote on May 3, '05
Betul Bang, untuk bisa "membaca" alam ini, salah satunya, harus dimulai dari membaca buku (tak dibatasi media: bisa hard copy, bisa pula online).

Tapi terus terang, pekerjaan sehari-hari membuat saya lebih sering menulis ketimbang membaca (alasan sebenarnya: m-a-l-e-s :P). Padahal, menurut dosen jurnalistik saya, Sahala Tua Saragih, penulis yang baik adalah pembaca yang baik).
latief wrote on May 3, '05
Betul Bang, untuk bisa "membaca" alam ini, salah satunya, harus dimulai dari membaca buku
Kata datuak di kampuang: Alam takambang jadi guru
matiangin wrote on May 3, '05
penulis yang baik adalah pembaca yang baik
bedanya di negara kita ini kita "terlalu" menghargai kemampuan ilmu-ilmu pasti.
jadi sebagai orang tua atau calon orang tua, kita juga harus adil.
kepada anak kita jangan cuma nilai matematikanya saja yang ditanya.
sekali-sekali ditanya hasil pelajaran mengarangnya.
sampai sekarang saya masih agak kecewa kalau ingat bagaimana dulu saya menganggap remeh pelajaran mengarang.
kalau boleh saya balik bang tian ; bagaimana mau jadi pembaca yang baik....
tianarief wrote on May 4, '05
ilmu pasti
saya dulu tergolong "orjadul", yang menganggap ilmu pasti segalanya, sampe memaksakan diri masuk jurusan ipa. padahal, ujung²nya sosial juga. sekarang ini, berapa banyak "orang teknik" yang memasuki dunia sosial dan susastra?

sebagaimana anak yang baru memasuki dunia sekolah; belajar baca dulu, baru nulis. demikian pula kita, seharusnya, baca dulu, baru nulis. seterusnya bergantian: baca-nulis-baca-nulis-baca-nulis dst. :D
wakiltuhan wrote on May 4, '05
kita baru akan menyadari keberadaan kita ketika kita memikirkan diri kita dan orang lain yang ada di sekitar kita, ada atau tidaknya kita itu tidak akan berarti apa2 ketika kita tidak mampu berbuat sesuatu yang berharga bagi orang disekitar kita. hanya orang yang sadar akan dirinyalah orang yang akan sadar dan peduli pada lingkungan sekitarnya.
membaca, membaca dan membaca, itulah tugas setiap pribadi manusia. membaca Diri sendiri, lingkuangan keluarga, lingkungan persahabatan, serta lingkungan sosial secara umumnya, tanpa menapikan apapun itu. Tuahan dengan segala Rahasianya harus selalu kita baca setiap gerak dan langkah yang dilakukan-Nya, hanya orang yang mampu membaca dirinyalah orang yang mampu membaca keberadaan dan maksud dari Tuhannya.
latief wrote on May 4, '05
dulu saya menganggap remeh pelajaran mengarang.
kalau boleh saya balik bang tian ; bagaimana mau jadi pembaca yang baik....
Apalagi sekarang banyak tipi pula. Makin malas ajalah membaca
latief wrote on May 4, '05
membaca, membaca dan membaca, itulah tugas setiap pribadi manusia.
Setuju bos..
matiangin wrote on May 4, '05
saya dulu tergolong "orjadul", yang menganggap ilmu pasti segalanya, sampe memaksakan diri masuk jurusan ipa. padahal, ujung²nya sosial juga. sekarang ini,
sukurlah kalo sudah bisa "menemukan" jalan
kalau untuk orang yang rada2 sulit baca-tulis seperti saya ini nuggu jalan yang nemuin saya :)
diniauliya wrote on Jul 23, '05
latief said
Mari kita galakkan membaca. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga bangsa ini menjadi bangsa terdidik. Salah satunya, dengan banyak membaca.
...saya jd inget puisinya taufik Ismail..kupu-kupu dalam buku...tentang membaca buku dalam segala cuaca...baca baca dan baca....asal kita bisa memfilter dan menyikai dgn bijak buku2 yg kita baca....
thanks pak latief...artikel2nya bnyk yg menginspirasi dan memotivasi...
latief wrote on Jul 23, '05
kupu-kupu dalam buku...tentang membaca buku dalam segala cuaca...baca baca dan baca....asal kita bisa memfilter dan menyikai dgn bijak buku2 yg kita baca....
Wah, aku belum liat tuh buku euy. Ntar cari deh...
Banyak membaca mungkin bisa ngurangi nonton sinetron atau infotainment ya hehe. Salam
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help