Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Blog EntryDi Halte itu KutungguApr 29, '05 7:34 PM
for everyone

Berlari kecil, aku bernyanyi: Ku berlari mengejar bis kota/ berlomba-lomba saling berebutan/ untuk dapat tempat yang nyaman....//. Aku memang sedang berlari mengejar bis, bukan untuk berebutan, bukan pula untuk sebuah tempat duduk yang nyaman. Tapi mengejar waktu. Ya, waktu. Disini, jadwal kedatangan bis di halte teratur. Dan itu artinya, ekspektasi tiba di tempat tujuan juga teratur. Ada sih melesetnya. Tapi biasanya, deviasinya kurang dari lima menit. Makanya, pemandangan orang berlari menuju halte, searah maupun berlawanan dengan arah bus, adalah pemandangan lazim. Kadang geli melihatnya. Sekaligus mengagumkan

Mengapa harus lari?. Itu pertanyaan awal dulu. Tokh bisa stop aja dimana suka. Bukannya sopir itu butuh kita. Seperti semboyan yang banyak tercantum dalam stiker: "Anda perlu waktu, kami perlu uang". Ternyata o ternyata, kita butuh waktu, sopir tak butuh uang. Sebab ia digaji flat, ada tiada penumpang. Jadi, sopir bis hanya memburu waktu tiba di halte sesuai menit dalam daftar yang ia pegang. Waktu menjadi panglima tertinggi, yang menjadi patokan bersama.

Melihat ini sambil mengenang, halte di Jakarta ternyata potret buram bagaimana sebuah sistem dibangun dan dijalankan. Bagaimana pun, disini pembangunan halte bukan proyek semata. Melainkan dibangun berdasarkan survey, agar bermanfaat maksimal, dan tidak menimbulkan kemacetan. Makanya ada halte yang jaraknya dengan halte lain jauh, ada pula yang berdekatan. Ada yang dibangun di bagian jalan yang dibuat ceruk, ada pula yang di pinggir jalan saja. Berbeda, berdasarkan kebutuhan lokasi.

Nah, itu untuk pembangunan infarstruktur. Bagaimana dengan penggunaan. Pemandangan di halte menunjukkan budaya berkelas tinggi. Penumpang menunggu, antri, bebas coretan, bebas pedagang, dan bus berhenti persis. Inilah gambaran kesadaran berkesinambungan. Penumpang tak menunggu diluar halte, sebab itu melanggar aturan dan bus tak akan berhenti. Bus tidak akan mengangkut penumpang diluar halte, sebab melanggar aturan, dan takut ditangkap. Polisi, tidak akan menggunakan aturan ini untuk pat gulipat dan pritt jigo, sebab itu melanggar sumpah jabatan, dan kinerjanya diawasi oleh warga yang menggajinya lewat bayaran pajak. Elok. Sementara, di Jakarta, aku pernah diusir sama PKL yang menjadikan halte sebagai kios, karena dianggap menghalangi dagangannya dari pandangan calon pembeli. Duh!

Suatu masa, aku berbincang dengan Cak Nur. Cerdik cendekia itu bilang, bangsa ini susah untuk maju, selama belum mematuhi hal-hal kecil, seperti lampu merah. Aku juga terkenang Paman Deng Xiao Ping. Katanya, "Dengan sistem, orang paling jahat pun tak akan berbuat jahat. Tapi tanpa sistem, orang baik bisa berbuat tidak baik, bahkan menjadi jahat." Maka dengan membangun sistem yang tepat, dan hukum bukan lagi macan kertas, mungkin orang berpikir ulang untuk berbuat sesuatu yang melenceng.

Sebagai rahayat, sahaya hanya bisa bertutur hal yang tiada berat. Hanya tentang halte. Namun, keteraturan halte akan mengeliminasi kemacetan. Dan, sahaya percaya, keteraturan sistem secara keseluruhan, akan memberantas kemacetan lain, termasuk kredit macet. Semoga.


17 CommentsChronological   Reverse   Threaded
nenden wrote on Apr 30, '05
ya gimana lagi kesadaran masyarakat di indo belum tinggi kali... mungkin butuh pemimpin yang benar benar udah sadar akan segalanya.. ada ga sih?
nicelovelydentist wrote on Apr 30, '05
Saya percaya, dengan izin Allah, suatu hari nanti semuanya jadi lebih baik.

Tiap hari bekerja untuk anak anak, 12 jam perhari, 5 hari per minggu.
Walaupun urusan saya adalah mencegah, merawat dan memperbaiki gigi mereka, tapi saya dapet bonus....kita melalui proses belajar mengajar setiap hari.

Di klinik, anak anak itu belajar banyak hal, tapi saya juga belajar dari mereka. Tiap hari saya terkagum kagum akan kedisiplinan mereka, akan kemantapan mereka mengucapkan terima kasih, akan keyakinan mereka untuk tetap memelototi stiker -hadiah karena pintar selama perawatan giginya- tanpa nyelonong ambil stiker sebelum dipersilahkan.

Jadi,...asal kita semua bisa kuat menanti dan berfikir positif selalu, melihat segalanya 'half full instead of half empty', optimisme kita juga akan tertular ke mereka.

Biar bagaimana pun ruwetnya buntelan benang, pasti ada ujung dan ada pangkalnya. Jadi,...kita harus mulai, saat ini, di manapun dan siapa pun. Saya percaya, daripada kita sedih,...mulai mendisiplinkan diri, berani tegur orang lain bila kita melihat mereka melakukan sesuatu diluar aturan dan tata krama (karena disiplin adalah tanggung jawab bersama, bukan pemerintah atau pembuat sistem saja) dan perbesar hati bila orang lain mengingatkan kita akan perilaku kita yang ternyata diluar sistem.

Karena ,...sampai setua apapun kita ,...kita tetap harus belajar , khan ?
Indonesia pasti jadi lebih baik...asal kita mulai percaya dan mulai bertindak ,...berhenti menyesali.
republic wrote on Apr 30, '05
negara ini gak akan pernah benar selama jakarta terus menjadi pusat segala-galanya.
moyas wrote on Apr 30, '05
Tuturan dan harapan yg idealis, walau mengenai sebuah halte. Tapi seorang cendekiawan Amerika pernah bertutur "siapa saja yang memegang teguh sebuah idealisme, walau itu susah dicapai, kemungkinan besar akan bertindak sesuai dengan idealismenya itu dibanding orang yang tidak memiliki idealisme tsb. Politikus yang percaya bahwa suapan adalah bentuk kejahatan akan berkemungkinan kecil menerimanya ketimbang politikus yang melihat tidak ada yang salah dengan praktek tsb."
latief wrote on May 1, '05
moyas said
"siapa saja yang memegang teguh sebuah idealisme, walau itu susah dicapai, kemungkinan besar akan bertindak sesuai dengan idealismenya itu dibanding orang yang tidak memiliki idealisme tsb. Politikus yang percaya bahwa suapan adalah bentuk kejahatan akan berkemungkinan kecil menerimanya ketimbang politikus yang melihat tidak ada yang salah dengan praktek tsb."
Aku percaya ini Uda Anto. Eyang Soeharto juga punya semboyan:
"Dunia wis edan. Sopo-sopo sing ora edan, ora keduman. Ning, sak bejo-bejo wong edan, sing penting eling lan waspodo" (maaf kalo salah).
dekaakbar wrote on May 1, '05
Biar bagaimana pun ruwetnya buntelan benang, pasti ada ujung dan ada pangkalnya. Jadi,...kita harus mulai, saat ini, di manapun dan siapa pun. Saya percaya, daripada kita sedih,...mulai mendisiplinkan diri, berani tegur orang lain bila kita melihat mereka melakukan sesuatu diluar aturan
Setuju tante dokter. Harus dimulai dari lingkungan paling kecil. Keluarga, sekolah, dan tetangga.
latief wrote on May 1, '05
nenden said
mungkin butuh pemimpin yang benar benar udah sadar akan segalanya.. ada ga sih?
Aku selalu menaruh harapan tinggi pada pejabat yg ditunjuk bukan karena balas budi politis atau KKN. Tapi krn kualifikasi sekolah luar negeri. Sebab selain kualitas, pejabat model ini punya pengalaman melihat kehidupan diluar. Mungkin kelewat banyak cobaan dari pejabat lain. Semoga, suatu saat.
latief wrote on May 1, '05
negara ini gak akan pernah benar selama jakarta terus menjadi pusat segala-galanya.
Daeng, mungkin akan lain critanya kalau Amien Rais yg naik ya. Ide federasi bisa jalan, ngkali.
shintadwiviyani wrote on May 1, '05
sedih bgt yah kalo ngomongin macet dan keteraturan di Jakarta Beh...bener2 sering berasa hopeless rasanya...aku jadi inget jalanan jatinegara/kebon pala...yg udah kronis bgt kayanya...dari 5 jalur jadi cuman 2 kadang2 satu karena terlalu banyak pedagang "maju jalan" alias jualannya maju terus sampe ke tengah jalah...moga2 deh...somehow ada yg tau cara ngebenerinnya gimana? biar tinggal di jakarta bisa semakin hari semakin nyaman bukannya semakin ruwet...
latief wrote on May 1, '05
aku jadi inget jalanan jatinegara/kebon pala...yg udah kronis bgt kayanya...dari 5 jalur jadi cuman 2 kadang2 satu karena terlalu banyak pedagang "maju jalan" alias jualannya maju terus sampe ke tengah jalah...
ini kasus besar lagi. Mau diusir, melanggar HAM. Berat..berat..
iwan95 wrote on May 1, '05
sedih bgt yah kalo ngomongin macet dan keteraturan di Jakarta Beh...bener2 sering berasa hopeless rasanya...aku jadi inget jalanan jatinegara/kebon pala...yg udah kronis bgt kayanya...dari 5 jalur jadi cuman 2 kadang2 satu karena terlalu banyak pedagang "maju jalan" alias jualannya maju terus sampe ke tengah jalah...moga2 deh...somehow ada yg tau cara ngebenerinnya gimana? biar tinggal di jakarta bisa semakin hari semakin nyaman bukannya semakin ruwet...
Jalanan macet.....??? (kasus : Jakarta dan sekitarnya)

Fakta :
A. Mobil Angkot & Bus suka ngetem nunggu penumpang sehingga menutupi jalan untuk lalu lintas kendaraan di belakangnya
B. Pedagang berjualan di trotoar bahkan ruas jalan sampai 'memakan' badan jalan sehingga mempersempit lebar jalan raya
C. Calon penumpang angkot juga sering menunggu angkot di titik yg paling mudah dijangkau olehnya setelah keluar dari pasar/mall sehingga titik itu menjadi sumber kemacetan baru

Spekulasi sebab :
1. Sopir angkot/bus gak disiplin?
Atas nama setoran dan penghasilan harian maka sopir dituntut efisien sehingga untuk satu putaran trayek (sering disebut 'rit') memiliki jumlah penumpang minimal agar impas dengan biaya bensin kendaraannya.

Di sini ada fakta lain bahwa pihak Manajemen Transportasi Kota (semua pihak terkait sebagai representasi dari Government) di beberapa daerah terbukti mengeluarkan ijin untuk mobil angkot baru sebegitu mudahnya tanpa didasarkan pada studi kelayakan sistem transportasi yg integrated (jumlah mobil rata2 pemakai jalan raya, periode peak hour, kapasitas jalan raya menampung kendaraan, serta beberapa forecasting untuk masa depan) sehingga rasio jumlah angkot dengan pengguna angkot serta rasio antara jumlah angkot plus kendaraan lainnya dengan kapasitas jalan raya menjadi sangat tidak proporsional.

2. Pedagang tidak disiplin?
Fakta lain : Di dalam pasar sebenarnya ada pedagang yg jelas terdaftar (ter-register sebagai pemilik kios resmi) dan ada juga pedagang2 yg statusnya tidak jelas.
Para pedagang ini juga merasa berhak atas ’wilayah sewaan’ tersebut karena merasa telah membayar sejumlah uang sebagai ’uang sewa’ kepada ’penguasa’ de facto kawasan pasar tersebut (entah ’oknum’ entah ’preman’) sehingga mereka merasa berhak dan aman untuk berjualan bahkan sampai melewati batas teritori pasar.

3. Calon penumpang angkot tidak disiplin?
Fakta lain : Pembangunan bangunan Mal, pusat belanja atau pusat2 konsentrasi massa lainnya seringkali tidak memperhitungkan akses dan arus para pengguna sarana transportasi umum (termasuk angkot)
Mungkin (dugaan saya) Asumsi yg dipakai saat proses design konstruksi bangunan memang kurang memperhitungkan pengunjung pusat perbelanjaan yg menggunakan transportasi umum , jadi lebih berkonsentrasi pada pengunjung yg menggunakan sarana transportasi pribadi.

Penegakan Hukum (metoda Sanksi keras terhadap pelanggar peraturan) sebagai salah satu pendekatan penyelesaian masalah mungkin bisa juga diambil sebagai pemicu awal, namun analisa sosial yg lebih tajam ke dalam lebih dibutuhkan untuk mencari titik-titik strategis sumber masalah. Kebijakan yg salah urus di masa silam ternyata berbuah penyakit yg komples lagi kronis di masa kini dan masa depan. Keterbukaan akses publik terhadap informasi regulasi di lingkungannya sepertinya harus segera dimulai sehingga PERDA or UU bottom-up tidak hanya menjadi slogan muluk2 semata.

Hal2 di atas setidaknya merangsang logika kita agar mampu menganalisa persoalan dengan lebih hati2 dan lebih dalam....karena ternyata banyak fakta-fakta tersembunyi yg tak mudah terlihat begitu saja.....sehingga nantinya gak membuat keputusan/kebijakan (Comprehensif Solution) hanya berdasarkan analisa yg dangkal

* maaf kepanjangan ya.....
** kalo dibikin di jurnal sendiri takut momentnya jadi basi
latief wrote on May 2, '05
iwan95 said
karena ternyata banyak fakta-fakta tersembunyi yg tak mudah terlihat begitu saja.....
Mantabbb... bung Iwan. Ternyata kemacetan itu punya persepfektif yg luas ya. Banyak orang yang menggantungkan hidup di jalan raya, shg jalan raya tidak sekedar sarana transportasi, tp juga ekonomi. Makanya, solusinya harus double dan gradual.
sekarwahyudi wrote on May 2, '05
iwan95 said
kalo dibikin di jurnal sendiri takut momentnya jadi basi
Bikin aja Oom. Soal macet, jalan raya di Jabotabek gak bakal basi. Setiap hari justru makin hangat, krn semakinj parah...
iwan95 wrote on May 2, '05
latief said
Ternyata kemacetan itu punya persepfektif yg luas ya. Banyak orang yang menggantungkan hidup di jalan raya, shg jalan raya tidak sekedar sarana transportasi, tp juga ekonomi.
Nah berangkat dari sini (poin kemacetan) saja ternyata memungkinkan skali munculnya banyak thesis tentang sebab musabab dan rajutan benang ruwet masalah ini.....(dan terus terang saya gak ngerti ilmu analisisnya...semoga temen2 yg tau bisa sharing tentang pisau analisisnya)

hubungan antara kemacetan dengan mental kedisiplinan warga negara ?
hubungan antara kemacetan dengan KKN di aparatur negara ?
hubungan antara kemacetan dengan tingkat pendidikan/intelektualitas warga negara ?
hubungan antara kemacetan dengan kemiskinan ?
hubungan antara kemacetan dengan tingkat pengangguran ?

andai ada yg bisa menjelaskannya dengan runut dan logis
wow betapa mencerahkannya....=))

Thanx Bang Latief....lemparan isyu yg Ok banget :P
iwan95 wrote on May 2, '05
Bikin aja Oom. Soal macet, jalan raya di Jabotabek gak bakal basi. Setiap hari justru makin hangat, krn semakinj parah...
Thanx Bang SekarWahyudi :)
emang Serpong macet juga?
kayaknya BSD bebas macet tuh
cuma jalannya aja yg bolong2.....=))
latief wrote on May 2, '05
iwan95 said
hubungan antara kemacetan dengan kemiskinan ?
hubungan antara kemacetan dengan tingkat pengangguran ?
Aku yakin pasti ada. Ini justru yg bikin Pemda susah buat bergerak. Mau nertibin PKL, ojek, angkot, bus, calo? Brp puluh ribu orang yg akan menganggur begitu itu dijalankan.
nenden wrote on May 2, '05
latief said
Semoga, suatu saat.
amiiiiiiiiiiin, mudah mudahan atuh kang..!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help