Berlari kecil, aku bernyanyi: Ku berlari mengejar bis kota/ berlomba-lomba saling berebutan/ untuk dapat tempat yang nyaman....//. Aku memang sedang berlari mengejar bis, bukan untuk berebutan, bukan pula untuk sebuah tempat duduk yang nyaman. Tapi mengejar waktu. Ya, waktu. Disini, jadwal kedatangan bis di halte teratur. Dan itu artinya, ekspektasi tiba di tempat tujuan juga teratur. Ada sih melesetnya. Tapi biasanya, deviasinya kurang dari lima menit. Makanya, pemandangan orang berlari menuju halte, searah maupun berlawanan dengan arah bus, adalah pemandangan lazim. Kadang geli melihatnya. Sekaligus mengagumkan
Mengapa harus lari?. Itu pertanyaan awal dulu. Tokh bisa stop aja dimana suka. Bukannya sopir itu butuh kita. Seperti semboyan yang banyak tercantum dalam stiker: "Anda perlu waktu, kami perlu uang". Ternyata o ternyata, kita butuh waktu, sopir tak butuh uang. Sebab ia digaji flat, ada tiada penumpang. Jadi, sopir bis hanya memburu waktu tiba di halte sesuai menit dalam daftar yang ia pegang. Waktu menjadi panglima tertinggi, yang menjadi patokan bersama.
Melihat ini sambil mengenang, halte di Jakarta ternyata potret buram bagaimana sebuah sistem dibangun dan dijalankan. Bagaimana pun, disini pembangunan halte bukan proyek semata. Melainkan dibangun berdasarkan survey, agar bermanfaat maksimal, dan tidak menimbulkan kemacetan. Makanya ada halte yang jaraknya dengan halte lain jauh, ada pula yang berdekatan. Ada yang dibangun di bagian jalan yang dibuat ceruk, ada pula yang di pinggir jalan saja. Berbeda, berdasarkan kebutuhan lokasi.
Nah, itu untuk pembangunan infarstruktur. Bagaimana dengan penggunaan. Pemandangan di halte menunjukkan budaya berkelas tinggi. Penumpang menunggu, antri, bebas coretan, bebas pedagang, dan bus berhenti persis. Inilah gambaran kesadaran berkesinambungan. Penumpang tak menunggu diluar halte, sebab itu melanggar aturan dan bus tak akan berhenti. Bus tidak akan mengangkut penumpang diluar halte, sebab melanggar aturan, dan takut ditangkap. Polisi, tidak akan menggunakan aturan ini untuk pat gulipat dan pritt jigo, sebab itu melanggar sumpah jabatan, dan kinerjanya diawasi oleh warga yang menggajinya lewat bayaran pajak. Elok. Sementara, di Jakarta, aku pernah diusir sama PKL yang menjadikan halte sebagai kios, karena dianggap menghalangi dagangannya dari pandangan calon pembeli. Duh!
Suatu masa, aku berbincang dengan Cak Nur. Cerdik cendekia itu bilang, bangsa ini susah untuk maju, selama belum mematuhi hal-hal kecil, seperti lampu merah. Aku juga terkenang Paman Deng Xiao Ping. Katanya, "Dengan sistem, orang paling jahat pun tak akan berbuat jahat. Tapi tanpa sistem, orang baik bisa berbuat tidak baik, bahkan menjadi jahat." Maka dengan membangun sistem yang tepat, dan hukum bukan lagi macan kertas, mungkin orang berpikir ulang untuk berbuat sesuatu yang melenceng.
Sebagai rahayat, sahaya hanya bisa bertutur hal yang tiada berat. Hanya tentang halte. Namun, keteraturan halte akan mengeliminasi kemacetan. Dan, sahaya percaya, keteraturan sistem secara keseluruhan, akan memberantas kemacetan lain, termasuk kredit macet. Semoga.
 | ya gimana lagi kesadaran masyarakat di indo belum tinggi kali... mungkin butuh pemimpin yang benar benar udah sadar akan segalanya.. ada ga sih? |
 | Saya percaya, dengan izin Allah, suatu hari nanti semuanya jadi lebih baik.
Tiap hari bekerja untuk anak anak, 12 jam perhari, 5 hari per minggu. Walaupun urusan saya adalah mencegah, merawat dan memperbaiki gigi mereka, tapi saya dapet bonus....kita melalui proses belajar mengajar setiap hari.
Di klinik, anak anak itu belajar banyak hal, tapi saya juga belajar dari mereka. Tiap hari saya terkagum kagum akan kedisiplinan mereka, akan kemantapan mereka mengucapkan terima kasih, akan keyakinan mereka untuk tetap memelototi stiker -hadiah karena pintar selama perawatan giginya- tanpa nyelonong ambil stiker sebelum dipersilahkan.
Jadi,...asal kita semua bisa kuat menanti dan berfikir positif selalu, melihat segalanya 'half full instead of half empty', optimisme kita juga akan tertular ke mereka. Biar bagaimana pun ruwetnya buntelan benang, pasti ada ujung dan ada pangkalnya. Jadi,...kita harus mulai, saat ini, di manapun dan siapa pun. Saya percaya, daripada kita sedih,...mulai mendisiplinkan diri, berani tegur orang lain bila kita melihat mereka melakukan sesuatu diluar aturan dan tata krama (karena disiplin adalah tanggung jawab bersama, bukan pemerintah atau pembuat sistem saja) dan perbesar hati bila orang lain mengingatkan kita akan perilaku kita yang ternyata diluar sistem. Karena ,...sampai setua apapun kita ,...kita tetap harus belajar , khan ? Indonesia pasti jadi lebih baik...asal kita mulai percaya dan mulai bertindak ,...berhenti menyesali. |
 | negara ini gak akan pernah benar selama jakarta terus menjadi pusat segala-galanya. |
 | moyas wrote on Apr 30, '05 Tuturan dan harapan yg idealis, walau mengenai sebuah halte. Tapi seorang cendekiawan Amerika pernah bertutur "siapa saja yang memegang teguh sebuah idealisme, walau itu susah dicapai, kemungkinan besar akan bertindak sesuai dengan idealismenya itu dibanding orang yang tidak memiliki idealisme tsb. Politikus yang percaya bahwa suapan adalah bentuk kejahatan akan berkemungkinan kecil menerimanya ketimbang politikus yang melihat tidak ada yang salah dengan praktek tsb." |
 | sedih bgt yah kalo ngomongin macet dan keteraturan di Jakarta Beh...bener2 sering berasa hopeless rasanya...aku jadi inget jalanan jatinegara/kebon pala...yg udah kronis bgt kayanya...dari 5 jalur jadi cuman 2 kadang2 satu karena terlalu banyak pedagang "maju jalan" alias jualannya maju terus sampe ke tengah jalah...moga2 deh...somehow ada yg tau cara ngebenerinnya gimana? biar tinggal di jakarta bisa semakin hari semakin nyaman bukannya semakin ruwet... |
| |