Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Blog EntrySpring dan Perut MlendingApr 24, '05 5:02 AM
for everyone

Gloucester Street, Norwich, Apr 2005Kupandang petang yang merembang. Di jalanan dua sejoli tertawa riang. Mengenakan baju terbuka motif kembang, sendal, dan tak lupa kacamata dan rok yang mengembang. Ada pula remaja bermain papan luncur lengkap dengan celana gombrang. Membuat rambutnya yang panjang tergerai terbang. Petang yang elok. Tapi kenapa perutku sudah menjerit keroncongan? Oho.. hari boleh masih petang, tapi jam sudah menunjuk 7.30 pm. Inilah spring, musim dimana siang semakin panjang.

Siang yang semakin panjang ini membuat ritme kehidupan berubah total. Apalagi, kalau matahari bersinar terik. Warga Norwich yang jarang kena matahari itu pun seolah sedang menerima berkah besar. Keluar rumah. Membiarkan badan dijilati sinar ultra violet. Untuk itu, pakaian pun harus terbuka, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sepatu boot menghilang, digantikan sendal. Jaket tebal nyungsep bermetamorfosa dengan tank top dan rok mini. Taman dibongkar. Pokoknya apa saja dilakukan asal kena matahari.

Kami pun tak mau kalah. Bukan karena rindu matahari. Ku raih sepeda, memaksakan bercelana pendek meski kedinginan, dan mengayuh berkeliling. Selain menikmati "pemandangan" sedap di mata, juga untuk membakar sedikit kalori. Bukan apa-apa. Karena adagium kuno, makan malam ya harus malam. Maka dinner pun selalu di atas pukul 8. Akibatnya tak ada waktu untuk membakar kalori itu sebelum tertidur. Akibatnya lagi, perut pun semakin mlending

Bagi yang tau bagaimana six-pack back-packnya perutku selama ini, akan bilang: "alah..spring pulak yang kau jadikan alasan".

Tapi pengetahuan sejarahku kurang untuk menjelaskan, apakah bangsa Inggris punya korelasi sejarah, antara musim yang berubah ini dengan pembangunan sistem. Misalnya, pada musim dingin tak mungkin bertanam. Otomatis mereka harus punya simpanan makanan. Dus, mereka juga harus punya persediaan batubara dan makanan berkalori tinggi untuk penghangat badan. Sayang, kita hanya punya satu musim abadi yang tiada henti berputik dan tak usai dipanen: musim korupsi dimana-mana. 


18 CommentsChronological   Reverse   Threaded
nenden wrote on Apr 24, '05
jangan jangan bang latif juga ikut ikutan buka segalanya dari ujung rambut sampe ujung kaki, dan jalan jalan pake sepeda juga dengan dandanan serba terbuka a :-? walaaaaaaaaahh.. xixixixixixi.. telanjang bulat? oh no kayana engga ya.. :D
latief wrote on Apr 24, '05
boro2. tiriiissss...
moyas wrote on Apr 24, '05
Hahahaha, kami suka cerita bang Latief. Ringan dan menyentil istri saya bilang. Keep on writing. Di sini kami juga menikmati tibanya musim semi. Jalan-jalan sore keliling kompleks utk bakar kalori.
tianarief wrote on Apr 24, '05, edited on Apr 24, '05
perut pun semakin mlending
-latief


ini kan gejala biasa di kalangan pria mapan (secara ekonomis ya juga psikologis). yang tidak biasa (dan harus diberantas) itu korupsi. :D
shintadwiviyani wrote on Apr 25, '05
lebih menggigit kalo fotonya kartunnya diganti foto Lurah Gloucester ajah tuh...jadi foto asli gitu!! hihihiihi peace Beh
seblat wrote on Apr 25, '05
untung si perut mlending pake kaos bendera amrik.. coba kalau pake kaos bendera indonesia.. pasti nyangkanya tuh perut kena santet...bukan karena makmur..
latief wrote on Apr 25, '05
ini kan gejala biasa di kalangan pria mapan (secara ekonomis ya juga psikologis). yang tidak biasa (dan harus diberantas) itu korupsi. :D
Hahhaaa Kang Tyan bisa wae. Bukan pria mapan, tapi pria malas
latief wrote on Apr 25, '05
seblat said
.. pasti nyangkanya tuh perut kena santet...
Atau busung lapar Man
latief wrote on Apr 25, '05
lebih menggigit kalo fotonya kartunnya diganti foto Lurah Gloucester ajah tuh...jadi foto asli gitu!!
Alah, buka rahasia pulak...
Ngepel 8 jam sehari, ternyata gak ngaruh ama tuh perut backpack
latief wrote on Apr 25, '05
moyas said
Di sini kami juga menikmati tibanya musim semi. Jalan-jalan sore keliling kompleks utk bakar kalori.
okay daeng, keep in walking ya. salam buat keluarga. Jabat erat
nenden wrote on Apr 25, '05
latief said
boro2. tiriiissss...
suganteh kuat ku tiris...!
Comment deleted at the request of the author.
republic wrote on Apr 25, '05
latief said

Gloucester Street, Norwich, Apr 2005Kupandang petang yang merembang. Di jalanan dua sejoli tertawa riang. Mengenakan baju terbuka motif kembang, sendal, dan tak lupa kacamata dan rok yang mengembang. Ada pula remaja bermain papan luncur lengkap dengan celana gombrang. Membuat rambutnya yang panjang tergerai terbang. Petang yang elok. Tapi kenapa perutku sudah menjerit keroncongan? Oho.. hari boleh masih petang, tapi jam sudah menunjuk 7.30 pm. Inilah spring, musim dimana siang semakin panjang.


Siang yang semakin panjang ini membuat ritme kehidupan berubah total. Apalagi, kalau matahari bersinar terik. Warga Norwich yang jarang kena matahari itu pun seolah sedang menerima berkah besar. Keluar rumah. Membiarkan badan dijilati sinar ultra violet. Untuk itu, pakaian pun harus terbuka, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sepatu boot menghilang, digantikan sendal. Jaket tebal nyungsep bermetamorfosa dengan tank top dan rok mini. Taman dibongkar. Pokoknya apa saja dilakukan asal kena matahari.


Kami pun tak mau kalah. Bukan karena rindu matahari. Ku raih sepeda, memaksakan bercelana pendek meski kedinginan, dan mengayuh berkeliling. Selain menikmati "pemandangan" sedap di mata, juga untuk membakar sedikit kalori. Bukan apa-apa. Karena adagium kuno, makan malam ya harus malam. Maka dinner pun selalu di atas pukul 8. Akibatnya tak ada waktu untuk membakar kalori itu sebelum tertidur. Akibatnya lagi, perut pun semakin mlending


Bagi yang tau bagaimana six-pack back-packnya perutku selama ini, akan bilang: "alah..spring pulak yang kau jadikan alasan".


Tapi pengetahuan sejarahku kurang untuk menjelaskan, apakah bangsa Inggris punya korelasi sejarah, antara musim yang berubah ini dengan pembangunan sistem. Misalnya, pada musim dingin tak mungkin bertanam. Otomatis mereka harus punya simpanan makanan. Dus, mereka juga harus punya persediaan batubara dan makanan berkalori tinggi untuk penghangat badan. Sayang, kita hanya punya satu musim abadi yang tiada henti berputik dan tak usai dipanen: musim korupsi dimana-mana. 

saya pernah dengar teori ini tentang relasi antara bangkitanya kapitalisme di masyarakat yang tinggal di wilayah empat musim (ecological determinism). cuma ini kurang afdol untuk menjelaskan negara kapitalis yang berada di wilayah tropis seperti singapura.
republic wrote on Apr 25, '05
latief said
okay daeng, keep in walking ya. salam buat keluarga. Jabat erat
lucu juga mendegar anto yang minang dipanggil daeng....
latief wrote on Apr 25, '05
nenden said
suganteh kuat ku tiris...!
Neng, eta awewe bule, juga gak kuat dingin. Pernah mataku selip, ngeliat perutnya yg terbuka merinding kedinginan hihihi (*Istighfar*)
latief wrote on Apr 25, '05
lucu juga mendegar anto yang minang dipanggil daeng....
Oo dia Uda rupanyo. Kirain samo jo Daeng Sul. Maaf baribu maaf
latief wrote on Apr 25, '05
saya pernah dengar teori ini tentang relasi antara bangkitanya kapitalisme di masyarakat yang tinggal di wilayah empat musim (ecological determinism).
Ayo Daeng, lanjutkan. Mungkin berguna buat kita yg punya musim banjir, demam berdarah
republic wrote on Apr 25, '05
latief said
Oo dia Uda rupanyo. Kirain samo jo Daeng Sul. Maaf baribu maaf
bang latief, saya kira anto sih ok-ok aja. kan sama aja kita2 ini dipanggil mas pdhl bukan orang jawa..
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help