


Derai air mata, dan tangis sesenggukan Dewi Hughes, menggenapi seluruh duka dan luka. Capek menjalani proses perceraian, presenter Angin Malam dan Mimpi Kali Ye itu mencurahkan seluruh isi hati. Tak tanggung, entah angin dan mimpi apa, segala aib pun dibongkar. Mulai soal sepele, soal bau mulut, hingga berjuta pele, (maaf!) kelainan seks. Siapa sangka, Hughes yang selalu tampil sumringah ternyata menyimpan dukacita menganga.
Mungkin curahan ini akibat gelegak jiwa yang tersumbat begitu lama. Mungkin pula bagian dari muslihat pengacara, yang ingin mencipta public pressure. Terserahlah.
Bersamaan dengan cerita pilu Hughes, publik Inggris disajikan pemukulan bintang sepakbola Wayne Rooney, terhadap yayangnya Coleen McLoughlin, di sebuah pub, di Manchester. Coleen akhirnya memaafkan kekasihnya yang emang ringan tangan, dan ringan memaki itu. Ada yang bilang, Coleen terang aja gak mau pisah. Soalnya koleksi tas dan sepatunya yang seabreg dan mahal, courtessy to kartu kredit Rooney. Tuntas antara keduanya, tak berarti soal beres. Kontrak Rooney dengan Nike, senilai 5 juta Pound, dan Cocacola (1 juta Pound) terancam diputus. Alasannya, perilaku dia sebagai public figure harus mewakili image perusahaan.
Inilah sisi lain dari popularitas, kehidupan pribadi menjadi santapan publik. Sebagai selebritis, perilakunya menjadi panutan dan dipantau banyak orang. Apakah Hughes menyadari ini. Bintangnya yang bersinar, sebagai selebritis yang menjungkirkan pemeo artis haruslah kurus dan langsing, bisa saja meredup. Bisa jadi Hughes akan bilang, sebodo teuing dengan karir (artinya: apalah arti karir dibanding sakit hatiku). Atau ia belajar dari SBY, yang popularitasnya menaik, justru setelah "dizalimi".
Udah ah, aku bukan pengamat artis, bukan pula wartawan gaul. Nulis Hughes, hanya jalan untuk ucap: Selamat hari Kartini!. Semoga kaum perempuan semakin bergaya berjaya.