Aku baru saja menyelesaikan tugas membersihkan pojok lobby, saat mata tertumbuk pada dua sosok yang sedang mengobrol. Aku merasa familiar dengan wajah keduanya. Setelah scanning dan tuning ingatan sejenak, aha..!, yang satu Charles Clarke, dan lainnya Ian Gibson. Clarke sering nongol di tipi dan koran. Sebab ia adalah Menteri Dalam Negeri dan petinggi Partai Buruh. Gibson, sebulan lalu, datang ke rumah sakit ini, mengikuti rapat karyawan yang menuntut kenaikan gaji. Mereka adalah Member of Parliament (MP) Inggris, daerah pemilihan Norwich. Istilahnya mereka sedang pulang kampung menengok rumah sakit. Apalagi, masalah kesehatan (NHS) merupakan soal sensitif yang menjadi tema kampanye saat ini.
Tapi sungguh keduanya bukan pejabat kampungan yang harus disambut. Tak ada keriuhan berarti, meski sedang ada tamu "besar". Berdua mereka ngobrol seperti keluarga pasien belaka. Tak ada pejabat rumah sakit yang mendampingi. Aku penasaran. Aku ikuti apa saja yang mereka lakukan. Di pojok, ada seseorang yang menurut naluriku, pengawal tertutup. Lalu, ajudan mendekat. Agaknya memberi tahu mobil sudah ready. Mobilnya Clarke, Mendagri itu, jenis MVP merk Ford. Mereka, Clarke, ajudan, dan sopir pun pergi, tanpa vorijders dan sirene memekakkan telinga. Akan halnya Gibson, karena hanya MP bukan Menteri, ngeloyor tanpa ajudan. Mungkin ia nyetir sendiri, karena gaji sopir amatlah besar disini. Waktu datang menghadiri rapat karyawan sebulan lalu, ia juga datang tanpa disambut. Malah disuguhinya cuma minum air putih, dengan menuang sendiri dari botol ke gelas plastik.
Betul-betul negara "tak beradat". Bayangkan kalau ini di Indonesia. Paling tidak sang menteri membawa kepala biro humas, kepala dinas kesehatan (karena ini kunjungan ke rumah sakit), bupati lokasi rumah sakit berada, kapolres, dandim, dua polisi bermotor gede, satu truk polisi, dan puluhan ajudan bersafari. Rumah sakit akan menyeleksi perawat yang kinclong (atau bila tidak tersedia, menyewa artis lokal), serta tak lupa mendirikan tenda, memesan katering, dan musik kibod. Wong pejabat, je. Masak tak disambut. Dimana kesopanan dan kesantunan itu. Kunjungan salah satu Bupati di Propinsi Sumbar
Berapa besar negara ini menghemat biaya dan waktu, dengan menghilangkan tradisi sambut menyambut ini. Aku masih berdiri menerawang dari balik dinding kaca yang lebar, saat bahuku dicolek. Supervisor memintaku mengelap meja resepsionis. Duh, jam istirahat masih lama.
 | maklmum aja orang indo kebanyakan orang yang gile jabatan.. pengen punya krjaan tapi harus yang jabatannya luhur.. biar bisa di banggain.. getuh katanya.. mungkin juga biar bisa di jadikan sandaran buat nunjuk2 orang buat ngelayani dia.. walaaaaaaaaaaahhh.. kacau banget negeri indo ini.. warisan dari siapa ya ? |
 | makanya bang, kalo entar ente mo jadi penjabat, lekas pulang. jangan di inggris, di indonesia aja. setingkat kepala desa aja bisa wara-wiri pake bmw --biar pun tahun lawas. kalo pejabat di sini, rezekinya pun ngocor, tidak seperti rakyat jelata yang netes-netes. hidup indonesia! :P |
 | nenden wrote on Apr 19, '05, edited on Apr 19, '05 Mahap pisan, sumpah bukan saya  tenang aja aku ga nuduh bang latif ko =)) |
 | =)) no comment ah!! takut bang latif nya marah!! :D |
 | Teu nanaonan atuh neng. Abdi mah batak ti kuningan atuh.. Hidup Persib... tah.. |
 | Apa mungkin kita kebanyakan basa-basi? *bingung* |
 | jadi inget, waktu esde pernah disuru baris rame2 di pinggir jalan karena wiyogo mo dateng ke kelurahan yang ada di seberang esde ku... dan waktu smp pernah disuru bebaris2 di pinggir jalan juga sambil mengibar2kan bendera karena presiden mau lewat di dekat sekolahku... sekarang jadi mikir... itu idenya siapa ya? aku yakin si presiden juga ga bakal notice sedikitpun kalo ada anak2 bebaris2 di pinggir jalan. orang mobilnya juga ngebut. dan sekarang setelah semakin menydari keberadaan intrik2 dunia, aku jadi curiga jangan2 waktu itu sebenarnya presidennya ga lewat situ... hihhh... membodohi anak sekolah toh...bukannya disuru belajar aja baek2... ( sambil teringat cerita tentang presiden polandia yang ikut dalam antrian pencari kerja selepas masa jabatannya...) |
 | moyas wrote on Apr 24, '05 Hebat, sambil bekerja pun bang Latif masih bisa refleksi keadaan sekeliling. Hanya perlu diingat saja nanti, bang. Kalau sudah jadi pejabat pun, jangan pula minta ditemani orang sekampung kalau mengadakan kunjungan dinas. |
| |