 Aku memacu VW Golf yang kami sewa dengan tenang. Namanya mobil mewah, semuanya serba lembut. Ya setir, kopling, rem, dan persneling. Dasar udik, aku gak tau, posisi gigi mundur. Soalnya ini berbeda sekali dengan si tua Rocky milikku di Jakarta yang konvensional, gerak mundur persneling dalam posisi ditarik ke belakang. Nah, VW Golf tahun tinggi ini, gerak mundur, posisi persneling seperti masuk 1. Bedanya, tuas ditekan lebih dalam. Kami tertawa terbahak, begitu masalah teratasi.Beda dengan persneling yang bikin ketawa, urusan rem menjadi ?pertengkaran? panjang. Injakan yang kelewat lembut, menyebabkan empat penumpangku sering tersentak. Bagiku lumayan, mereka gak bisa tidur, sehingga aku tak kesepian hanya ditemani musik classic yang disetel JonatanBeres urusan rem, kini masalah berikut menghadang: ketertiban berlalulintas. Sebagai sopir yang biasa melintasi kemacetan Jakarta yang bak rimba belantara, menyetir di Inggris sini, bagai bumi dengan langit. Disini semua serba memberi, give way. . Saking seringnya mendengar kata ini, aku jadi ingat lagunya Red Hot Chili Peppers. Pokonya, pengendara yang datang dari sebelah kanan kita, harus diberi kelonggaran sebesar-besarnya. Misalnya, mau berbelok ke kanan, sepanjang masih ada kenderaan yang lurus, jangan coba menyalip. Orang sini tidak terbiasa nge-rem, sehingga refleksnya buruk. Untung ada Ratih dan Mama Ima yang pernah tinggal di Inggris. Mereka menjadi navigator andal, dalam menunjuk arah, dan juga memberi tahu kapan berhenti, kapan maju, dan timing yang tepat buat berbelok. Selain andal, adakalanya, mereka bawel bila aku nekat melanggar.Paling bingung adalah saat di bundaran, round-about. Aku susah sekali untuk tidak menyerobot ?masuk?, bila mobil yang dari kanan masih jauh. Padahal itu larangan besar. Sepanjang masih ada yang terlihat dari kanan, jangan pernah maju. Sebaliknya, akibat sering menyerobot, aku acap berhenti bila ada yang datang dari kiri. Padahal, mereka tidak akan berani maju setapak pun. Huh, kelewat tertib justru bikin aku repot rupanya. Dasar penduduk negara dunia ketiga, berpikir global, bertindak kanibal.Untung, kami sampai juga di kota Cambridge tanpa kurang suatu apapun. Cambridge, kami datang. Akan kureguk sungai Cam-mu, dan kusuruk bridge yang melingkunginya, dalam dendang Autumn Serenade

| |