Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Blog EntryKotak Pandora Bernama BencanaApr 7, '05 1:04 PM
for everyone

Bak godam raksasa, gempa itu menggada pulau Nias nan naas. Bangunan kukuh, rubuh. Jalanan gagah, pecah. Tower listrik menjulang, tumbang. Kabel listrik panjang merantai, terjuntai. Pulau Nias pun menggulita seketika. Warganya, gulana selamanya. Kita terpana, bencana itu mengapa datang berbondong. Menyeruak relung jiwa, bahwa manusia itu kecil dan papa di mata Nya.

Belum 100 hari bencana Aceh yang melantak kota menjadi tak berupa. Kini drama serupa seperti terputar ke mula. Jerit kematian, pengungsi kelaparan, eksodus tak berkesudahan. Dan satu lagi, kedatangan pasukan asing bak rahmat bagi warga. Singapura datang membawa Chinook, capung besi yang lincah kian kemari. Mengangkut makanan ke pedalaman. Mengevakuasi korban ke daerah aman. Juga menjadi hiburan bagi anak-anak yang didera ketakutan. Singapura juga membawa detektor sonar yang bisa menyigi denyut jantung nun dibalik reruntuhan. Hasilnya, seorang warga yang sudah "terkubur" 5 hari, terselamatkan. Sorai membahana, menyanjung sang tetangga.

Kemana kita? Pejabat dan pengamat yang dikuasai syahwat kuasa, tiada bermuka. "Ini menunjukkan bencana itu adalah universal, global, tidak mengenal sekat kebangsaan. Jadi wajar mereka memberi bantuan sesama tetangga", begitu kira-kira manisnya kata menutupi buruk rupa. Padahal, senyatanya kita sedang mengemis. Sedang membuka borok, bahwa kita tak punya apa-apa. Pertahanan kita rapuh. Hanya punya helikopter tua dengan mesin merk "Kanibal". Sebuah LSM dari Jerman mengirim bantuan dengan menyewa kapal dari Teluk Sibolga. Apa lacur, di tengah samudera mesin mati. Mau minta bantuan, radio juga mati. Padahal, di sungai Thames, London, kapal wisata saja dilengkapi radio canggih, pelampung dan ban bergantungan. Lengkap dengan guard pula. 

Kita, mana pernah peduli dengan faktor keselamatan. Banyak cara untuk selamat di saat darurat. Tengoklah, awal kapal itu membuang 3 dari 6 ton bahan makanan untuk korban yang kelaparan. Sebuah ironi. Duhai, ironi apalagi gerangan ini. Disaat bencana mengepung, rakyat menjerit akibat kenaikan BBM, duta besar RI di PBB dibelikan  villa mewah di Jenewa seharga 8.1 juta dollar (kl 73 Milyar rupiah). Lalu pejabat Dephan yang berwenang mengatur pesawat dan kapal tentara, justru heboh dengan pengadaan mobil dinas senilai 10 milyar.

Mengapa kita? Arkian, kata Nabi, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Memberi lebih mulia dari pada menerima. Namun, mengemis, kerjasama bilateral, kesadaran global, adalah pilihan kata yang bisa dihiaskan di media massa. Mestinya, ingat pepatah tua:
tingginya Chinook terbang dapat diukur,
dalamnya teluk Nias dapat diduga
dalam hati pasukan asing, siapa tau.


16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
nenden wrote on Apr 7, '05
sudah hal yang biasa rakyat menejerit kesakitan sedangkan pemimpin menikmati hasil jeritan rakyatnya dengan senak perutnya aja..
latief wrote on Apr 7, '05
nenden said
sudah hal yang biasa rakyat menejerit kesakitan sedangkan pemimpin menikmati hasil jeritan rakyatnya dengan senak perutnya aja..
sing sabar neng..
semoga Allah memberi balasan setimpal ya
nenden wrote on Apr 7, '05
amin! sayamah percaya bahwa setiap hal yang di lakukan manusia sekecil apapun pasti akan dapat balasannya, baik hal yang buruk ataupun hal yang baik.
republic wrote on Apr 7, '05
kalo ironisme sudah tidak lagi bekerja, ya apa boleh buat vandalisme akan berjaya
latief wrote on Apr 7, '05
nenden said
sayamah percaya bahwa setiap hal yang di lakukan manusia sekecil apapun pasti akan dapat balasannya, baik hal yang buruk ataupun hal yang baik.
Sayangnya bencana sebesar Aceh pun, tak mengena utk merubah polah. Kumaha deui atuh Neng
latief wrote on Apr 7, '05
kalo ironisme sudah tidak lagi bekerja, ya apa boleh buat vandalisme akan berjaya
Apa harus ada vandalisme model Kyrgyzstan, pendemo merangsek masuk istana dan mengusir Presiden, Daeng?
nenden wrote on Apr 7, '05
tenang aja, khan udah saya bilang balasan pasti akan datang pad setiap tingkah laku yang kita perbuat, kapan dan di mana nya itu hanya Tuhan yang tau dan mungkin diri manusia nya itu sendiri.. walah abdi meni so dewasa nya kang :D ah wios nya di ajar ieu mah. di ajar baleg!!
republic wrote on Apr 7, '05
latief said
Apa harus ada vandalisme model Kyrgyzstan, pendemo merangsek masuk istana dan mengusir Presiden, Daeng?
itu bentuk ekstrimnya, bang. tapi suatu saat ketika ironisme sudah sangat keterlaluan, yang ekstrim2 itu bisa saja terjadi. pejabat akhirnya harus keliar biaya ekstra untuk security.
tianarief wrote on Apr 8, '05, edited on Apr 8, '05
"tingginya Chinook terbang dapat diukur,
dalamnya teluk Nias dapat diduga
dalam hati pasukan asing, siapa tau."


ini peribahasa kontemporer ya? :P

soal vila mewah di jenewa bagi pejabat KBRI, pemerintah sdh punya jawaban: bukan dari dana bantuan pengungsi, lagi pula sudah direncanakan jauh sebelumnya. sense of crisis-nya manna?
tianarief wrote on Apr 8, '05
nenden said
ah wios nya di ajar ieu mah. di ajar baleg!!
sae, sae neng. ;)
latief wrote on Apr 8, '05
ini peribahasa kontemporer ya? :P

soal vila mewah di jenewa bagi pejabat KBRI, pemerintah sdh punya jawaban: bukan dari dana bantuan pengungsi, lagi pula sudah direncanakan jauh sebelumnya. sense of crisis-nya manna?
he..he.. peribahasa kuna kang.
Iya kang, bukan soal uang tsunami. Tp sense of crisis
nenden wrote on Apr 9, '05
:D hatur tengkiyuw kang!
adebachtiar wrote on Dec 24, '05
Wartawan seperti ini, yang rakyat indonesia perlukan, tapi sayangnya kalau sudah di indonesia, tulisannya biasanya sudah lain. hehehehe ;-))
latief wrote on Dec 29, '05
Wartawan seperti ini, yang rakyat indonesia perlukan, tapi sayangnya kalau sudah di indonesia, tulisannya biasanya sudah lain. hehehehe ;-))
hehehe..juga. Salah satu manfaat blog bagi wartawan adalah, untuk "lari" dari pengapnya newsroom yg banyak aturan dan tekanan. Semoga tulisannya tidak lain2 amat ya De..
ernisusi wrote on Jan 9, '06
latief said
Duhai, ironi apalagi gerangan ini. Disaat bencana mengepung, rakyat menjerit akibat kenaikan BBM, duta besar RI di PBB dibelikan villa mewah di Jenewa seharga 8.1 juta dollar (kl 73 Milyar rupiah). Lalu pejabat Dephan yang berwenang mengatur pesawat dan kapal tentara, justru heboh dengan pengadaan mobil dinas senilai 10 milyar.
Malu aku jadi orang Indonesia...
feat wrote on Apr 23, '07
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help