Yusuf bin Ahmad. Nama yang indah. Sehari-hari berniaga bubur ayam di depan Gedung Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Tapi Sabtu, 26 Maret, Yusuf memilih mengakhiri hidup dengan mengenaskan: menggantung diri di tiang jemuran. Malam sebelumnya, ia menonton televisi, menyaksikan aparat Tramtib menertibkan pedagang dengan cara memukuli. "Lihat tuh Bu, lihat tuh! Jahat sekali mereka. Pedagang ditendang-tendang!" cerita Sopiah mengutip kekesalan suaminya ketika menonton televisi. Tiga minggu sebelumnya, Yusuf mengalami perlakuan serupa seperti yang ia pirsa di tipi: gerobaknya digaruk. Entah gelegak sensasi apa yang dialami Yusuf, paginya ia pun mengakhiri hidup. Ketakutan telah menjelma menjadi kematian.

Balada Yusuf dari Bendungan Udik ini banyak dijumpai disekitar kita. Kehidupan minus kepastian. Dibumbui pula dengan kisah pilu penipuan, intrik, pengkhianatan. Tengoklah perjalanan almarhum Yusuf ini sebelum sanya ning kala tiang jemuran. Sudah menikah 18 tahun, punya 2 anak, menumpang di rumah orang tua. Membeli rumah over kredit secara mencicil, setelah menjual warisan leluhur di kampung. Mau balik nama, belum punya duit.
Pernah punya simpanan Rp 20 juta hasil jual tanah juga. Dipinjam teman yang mengaku kesusahan, sambil berjanji menambah tiga juta saat mengembalikan. Si teman menjaminkan rumah apabila uang tidak kembali. Saling percaya, tanpa surat menyurat. Tujuh bulan berlalu, uang tak kembali. Mau menarik rumah jaminan, eee... ternyata sudah dijual. Berbagai masalah, membuat Yusuf sakit-sakitan. Istri tau diri. Saat suami trauma, berdagang sambil waspada buat ngabur, ikut bekerja. Menjadi tukang masak. Bekerja 10 jam sehari, dibayar Rp 15 ribu. Seribu lima ratus per jam. Ya Tuhan, negeri ijo royo-royo loh jinawi.
Aku termangu tak kuasa bertitah. Besok, kami, para pekerja kebersihan rumah sakit Norwich, akan mogok kerja. Menuntut kenaikan gaji. Rupanya, gaji 4,85 Pound/jam (kl Rp 75 ribu) dirasa tidak adil lagi. Ah, manusia memang tiada henti meminta. Allah Robbul Izzati, ampuni aku.
 | memang kalo menuruti nafsu dunia fana ini ga bakalan ada cukupnya.yang sedang coba aku ingat adalah, dunia hanya tempat sementara bagi kita guna mencari bekal menuju ke tempat yang lebih abadi |
 |  Yusuf bin Ahmad. Nama yang indah. Sehari-hari berniaga bubur ayam di depan Gedung Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Tapi Sabtu, 26 Maret, Yusuf memilih mengakhiri hidup dengan mengenaskan: menggantung diri di tiang jemuran. Malam sebelumnya, ia menonton televisi, menyaksikan aparat Tramtib menertibkan pedagang dengan cara memukuli. "Lihat tuh Bu, lihat tuh! Jahat sekali mereka. Pedagang ditendang-tendang!" cerita Sopiah mengutip kekesalan suaminya ketika menonton televisi. Tiga minggu sebelumnya, Yusuf mengalami perlakuan serupa seperti yang ia pirsa di tipi: gerobaknya digaruk. Entah gelegak sensasi apa yang dialami Yusuf, paginya ia pun mengakhiri hidup. Ketakutan telah menjelma menjadi kematian.

Balada Yusuf dari Bendungan Udik ini banyak dijumpai disekitar kita. Kehidupan minus kepastian. Dibumbui pula dengan kisah pilu penipuan, intrik, pengkhianatan. Tengoklah perjalanan almarhum Yusuf ini sebelum sanya ning kala tiang jemuran. Sudah menikah 18 tahun, punya 2 anak, menumpang di rumah orang tua. Membeli rumah over kredit secara mencicil, setelah menjual warisan leluhur di kampung. Mau balik nama, belum punya duit.
Pernah punya simpanan Rp 20 juta hasil jual tanah juga. Dipinjam teman yang mengaku kesusahan, sambil berjanji menambah tiga juta saat mengembalikan. Si teman menjaminkan rumah apabila uang tidak kembali. Saling percaya, tanpa surat menyurat. Tujuh bulan berlalu, uang tak kembali. Mau menarik rumah jaminan, eee... ternyata sudah dijual. Berbagai masalah, membuat Yusuf sakit-sakitan. Istri tau diri. Saat suami trauma, berdagang sambil waspada buat ngabur, ikut bekerja. Menjadi tukang masak. Bekerja 10 jam sehari, dibayar Rp 15 ribu. Seribu lima ratus per jam. Ya Tuhan, negeri ijo royo-royo loh jinawi. Aku termangu tak kuasa bertitah. Besok, kami, para pekerja kebersihan rumah sakit Norwich, akan mogok kerja. Menuntut kenaikan gaji. Rupanya, gaji 4,85 Pound/jam (kl Rp 75 ribu) dirasa tidak adil lagi. Ah, manusia memang tiada henti meminta. Allah Robbul Izzati, ampuni aku.  memang manusia itu begitu...dalam quran juga dilukisnkan dengan seandainya sudah punya 1 gunung emas akan meminta dua gunung emas..begitu seterusnya..padahal saat ajal menjemput yang dibutuhkan cuma selembar kain kafan dan tanah yang berukuran sempit untuk kuburnya..... btw...75rb/jam...besar juga y...saya aja cuma 20rb/jam....:)) |
 | tianarief wrote on Mar 28, '05, edited on Mar 28, '05 Sabtu, 26 Maret, Yusuf memilih mengakhiri hidup dengan mengenaskan: menggantung diri di tiang jemuran.  Ini mirip sekali dengan kisah Sukardal, seorang tukang beca di Bandung yang kendaraan pencari nafkahnya digaruk aparat tramtib (tibum -istilah orang Bandung), tahun 1980-an.
Malam yang naas itu, saat Sukardal mengayuh beca di daerah Kosambi, aparat tramtib menarik becanya, karena daerah itu bebas-becak. Sukardal tak mau tinggal diam, ia pun terlibat tarik-menarik becak. Kalah tenaga dengan beberapa orang berseragam itu, Sukardal pun terhempas, harapannya pun kandas. Ia pun berjalan tak tentu arah.
Pagi harinya, orang-orang dikejutkan oleh sesosok mayat yang tergantung di cabang pohon tanjung di Jalan Ambon, Bandung. Dialah Sukardal...
(saya suka terharu dan menitikkan air mata kalau mengingat-ingat kejadian ini). :(
|
 | =)) apa tuh ngumbe? hidup maksudnya, bahasa mana tah kaga ngarti ah...!! |
 | "Kala Yusuf Menuai Ajal". Nyaris aja aku salah baca jadi "Yusuf Kala menuai ajal". Untung huruf "L"-nya satu. :P |
 | Nyaris aja aku salah baca jadi "Yusuf Kala menuai ajal". Untung huruf "L"-nya satu. :P  Ha..ha.., itu kan ilmu yg didapat dari padepokan tempat Akang skrng. Aku kira tadinya, Mas Widi mau bikin ini utk kolomnya. |
 | Di negeri ini pedagang kaki lima tak ubahnya seperti pelaku kriminal, yang diperlakukan kasar dan tidak manusiawi. Dengan dalih "ketertiban" maka mereka harus minggir "sehari atau dua hari", setelah itu kembali mereka berdagang dan para petugas tramtib pun kembali menarik "setoran" dari mereka......kalau begini terus mana mau beres. Itu boss2 petugas tramtib (gubernur & walikota) mana tau keadaan dibawah, bisanya main tunjuk dan perintah. Tolong deh akang2 yang kerja di media, masalah ini diangkat secara khusus dimedia akang tian dan akang latief....:) |
 | =)) karunya teuing sampai kagak sempat makan...!! |
 | Tulisan yang bagus sekali...Benar2 membuka mata :) |
 | Makasih Neng Dila, semoga mata dan hati kita semua ikut terbuka |
 | moyas wrote on Apr 6, '05 Cerita Yusuf cerita bangsa Indonesia. Mati kelaparan di lumbung padi. Miskin di tengah "kekayaan alam yang berlimpah". Sistim peradilan yang tak dapat diandalkan tidak dapat Yusuf jadikan sebagai tempat untuk menuntut keadilan. Meminta kembali gerobak mata pencaharian hidupnya dari aparat Tramtib dan menuntut kembali uang dari teman yang menipu dia. Dari jauh, saya hanya dapat membayangkan memang. Tidak dapat saya rasakan kesulitan yang menghimpit Yusuf. Di Amerika, kata seorang jurnalis, menjadi miskin berarti hidup tidak enak, di dunia lain, hidup miskin merupakan garis pemisah tipis antara hidup dan mati. Bagaimanapun juga Yusuf adalah saudara saya. Untuk saat ini, doa yang selalu saya ucapkan, saya mohonkan juga ke Yang Maha Kuasa untuk bangsa ini. Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari payahnya kemalangan, dari jurang kesengsaraan, dari buruknya nasib, dan dari cemooh lawan. Ya Allah, kami berlindung kepadaMu, dari kelemahan, dari kemalasan, dari kekikiran, dari kepikunan, dan dari nafsu yang tidak kunjung puas. |
 | . Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari payahnya kemalangan, dari jurang kesengsaraan, dari buruknya nasib, dan dari cemooh lawan. Ya Allah, kami berlindung kepadaMu, dari kelemahan, dari kemalasan, dari kekikiran, dari kepikunan, dan dari nafsu yang tidak kunjung puas  Amin ya Rabbal Alamin. Semoga kita terbebas dari rasa putus asa, melihat Indonesia tercinta |
 | moyas wrote on Apr 13, '05 Analisis/Diagnosa yg tepat menghasilkan solusi yg potensial lebih tepat pula...... Begitu banyak Analis Masalah Sosial di Indonesia...... Pada kemana mereka? Apa saja hipotesa mereka? Atau mereka telah berteriak tapi tak didengar?  Coba visit multiply Roby . Dia seorang mahasiswa sosiologi salah satu universitas terkemuka di AS. Pernah nulis jurnal ttg kerjaannya para sosiolog. Mungkin ini bisa menjawab pertanyaan iwan. Kalau menurut saya, solusi yang hebat sekalipun tidak bakal mampu menyelesaikan berbagai masalah/problem yang lagi ada. Perlu collective will power yang besar (setengah rakyat Indonesia misalnya) untuk merealisasikan perubahan. Juga, perlu kesabaran karena merubah budaya itu tidak semudah membalik telapak tangan. |
 | aku selalu senang tulisan mas hery (salah gak nih ngejanya mas, bapakku namannya hari, tapi sering ditulis "harry). |
 | Di Amerika, kata seorang jurnalis, menjadi miskin berarti hidup tidak enak, di dunia lain, hidup miskin merupakan garis pemisah tipis antara hidup dan mati.  Maaf sekedar koreksi mas, itu jurnalis tinggal di bagian mana di AS? Siapa bilang menjadi miskin cuma "hidup tidak enak"? Sekedar ngasih tau aja mas, di musim dingin tempat saya tinggal banyak gelandangan mati kedinginan di musim salju karena nggak ada tempat untuk mereka menghangatkan diri. Di musim panas (sekitar Juli Agustus nanti) banyak tunawisma mati kepanasan. Kelaparan dan kehausan juga bisa membunuh mereka. Tapi alhamdulillah, pihak pemerintah, gereja-gereja, dan penduduk di sini perduli akan penderitaan mereka, jadi para tunawisma itu tidak terlantar. Tapi kadang kita hanya bisa menolong sedikit di antara mereka, sementara yang tidak terurus, yah... Ah sudahlah, topik yang satu ini bikin saya nangis. |
| |