Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Blog EntryNasionalisme Kelam di B'HamMar 12, '05 9:07 PM
for everyone
Di depan stadionSupporterHallo..hallo Bandung
Ibukota Priyangan
Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau
sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung, rebut kembali.....




Darahku berdesir kencang menyanyikan lagu ini, sabtu petang di Birmingham. Apalagi, ketika pebulutangkis Alven Yulianto dan Luluk Hadiyanto, yang namanya baru saja diumumkan sesaat sebelum lagu itu mengalun, muncul di court 2. Aku, 9 teman dari Norwich, dan pelajar-pelajar Indonesia dari sejumlah kota di Inggris, terus bernyanyi, berteriak, mengibarkan merah putih, dengan kebanggaan dan rasa nasionalisme luar biasa.
Image taken from www.badmintonfotos.deSetelah berjuang 72 menit, Luluk dan Alven tunduk 12-15, 15-6, 10-15 dari pemain Denmark. Kami sungguh tak kuasa menahan duka. Terdiam sesaat, ditengah deru suara riang suporter Denmark.

Dibawah sana, Luluk tak mampu menahan kecewa. Ia terduduk lesu di karpet, dibawah panggung penonton. Bajunya yang berpeluh diangkat ke dada. Berselonjor, dengan punggung terkulai bersandar. Terpuruk dan tersuruk. Luluk dan Alven wajar kecewa. Alur permainan mereka dominasi. Hanya karena kesalahan sendiri, akhirnya mereka menelan pil pahit.

Malang buat kami yang datang jauh dengan membawa van 17 seats dari Norwich. Kekalahan pun diderita ganda campuran Nova Widiyanto dan Liliyana Natsir. Juga dari Denmark.
Bendera pun dilipat, sambil keluar National Indoor Arena (The NIA) dengan teriakan tercekat.

Birmingham, Kota Seribu KanalTapi kami tak menyesal. Setidaknya, bisa sedikit membangkitkan rasa nasionalisme, tanpa harus menyandang senjata dan meneriakkan Ganyang Malaysia. Pertandingan yang masih tersisa kami abaikan. Kami menyusuri kota Birmingham, kota terbesar kedua di Inggris dengan perasaan gembira. Mungkin gembira dalam duka. Entahlah.

16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
republic wrote on Mar 12, '05
latief said
kota Birmingham, kota terbesar kedua di Inggris d
it's Mordor ruled by Saruman
matiangin wrote on Mar 13, '05
latief said
Kekalahan pun diderita
nggak ada pemain kita yang tersisa nih
latief wrote on Mar 13, '05
nggak ada pemain kita yang tersisa nih
Abis bos. Terpuruk, betul2 terpuruk. All CHINA final dimana2. Padahal bulutangkislah benteng terakhir kebanggaan kita sbg Indonesia ya
iniaku wrote on Mar 13, '05
memang disaat kita jauh dari tanah air
dan kita melihat saudara kita berjuang atas nama Indonesia
rasa nasionalisme itu tumbuh

same thing happened waktu aku liat Elfas Choir di Olympic Choir 2004 Bremen...
but whatever... i always proud of being Indonesian

*homesick*
latief wrote on Mar 13, '05
iniaku said
same thing happened waktu aku liat Elfas Choir di Olympic Choir 2004 Bremen...
but whatever... i always proud of being Indonesian
Terharu deh, ngeliat anak2 Indonesia berdatangan dari sejumlah kota. Mrk abisin duit yg gak kecil, hanya utk nyanyi Maju Tak Gentar. Semoga ini terbawa setelah pulang he..he.. Ayo, Indonesia BANGKIT!!!!
iniaku wrote on Mar 13, '05
latief said
Ayo, Indonesia BANGKIT!!!!
ayo kita pasti bisa :D

iya bang, terharu yah...
aku waktu upacara 17-an di KJRI Frankfurt dan nyanyi Indonesia Raya eh nangis loh...
dulu mah boro2, biasanya upacara juga ngobrol

i love indonesia.. seburuk apapun itu
fanty wrote on Mar 13, '05
latief said
Di depan stadionSupporterHallo..hallo Bandung
Ibukota Priyangan
Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau
sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung, rebut kembali.....




Darahku berdesir kencang menyanyikan lagu ini, sabtu petang di Birmingham. Apalagi, ketika pebulutangkis Alven Yulianto dan Luluk Hadiyanto, yang namanya baru saja diumumkan sesaat sebelum lagu itu mengalun, muncul di court 2. Aku, 9 teman dari Norwich, dan pelajar-pelajar Indonesia dari sejumlah kota di Inggris, terus bernyanyi, berteriak, mengibarkan merah putih, dengan kebanggaan dan rasa nasionalisme luar biasa.
Image taken from www.badmintonfotos.deSetelah berjuang 72 menit, Luluk dan Alven tunduk 12-15, 15-6, 10-15 dari pemain Denmark. Kami sungguh tak kuasa menahan duka. Terdiam sesaat, ditengah deru suara riang suporter Denmark.

Dibawah sana, Luluk tak mampu menahan kecewa. Ia terduduk lesu di karpet, dibawah panggung penonton. Bajunya yang berpeluh diangkat ke dada. Berselonjor, dengan punggung terkulai bersandar. Terpuruk dan tersuruk. Luluk dan Alven wajar kecewa. Alur permainan mereka dominasi. Hanya karena kesalahan sendiri, akhirnya mereka menelan pil pahit.

Malang buat kami yang datang jauh dengan membawa van 17 seats dari Norwich. Kekalahan pun diderita ganda campuran Nova Widiyanto dan Liliyana Natsir. Juga dari Denmark.
Bendera pun dilipat, sambil keluar National Indoor Arena (The NIA) dengan teriakan tercekat.

Birmingham, Kota Seribu KanalTapi kami tak menyesal. Setidaknya, bisa sedikit membangkitkan rasa nasionalisme, tanpa harus menyandang senjata dan meneriakkan Ganyang Malaysia. Pertandingan yang masih tersisa kami abaikan. Kami menyusuri kota Birmingham, kota terbesar kedua di Inggris dengan perasaan gembira. Mungkin gembira dalam duka. Entahlah.
bernapas pun terasa berat...
semoga semangat yang ada kemaren benar2 bisa dibawa ''pulang'' nanti
moyas wrote on Mar 13, '05
latief said
Luluk dan Alven tunduk 12-15, 15-6, 10-15 dari pemain Denmark.
Seperti cerita kehidupan lazimnya, you lose some, you win some. Anggap saja ini kemenangan mereka yang tertunda. Thank you for the first hand account of the game.
bambangpriantono wrote on Mar 13, '05
asal nggak pesimis aja dalam menghadapi keadaan bangsa..
tianarief wrote on Mar 13, '05
latief said
Tapi kami tak menyesal. Setidaknya, bisa sedikit membangkitkan rasa nasionalisme, tanpa harus menyandang senjata dan meneriakkan Ganyang Malaysia.
Nasionalisme bangkit manakala jauh dari Tanah Air, saat mengetahui wilayah Tanah Air "nun jauh di sana" (betul kan, Bos?) "diobok-obok" negeri tetangga, saat melihat saudara sebangsa setanah air berjuang di negeri orang. Kalau bukan kita, siapa lagi? (meminjam slogan sebuah iklan). :D
bambangpriantono wrote on Mar 13, '05
Nasionalisme bangkit manakala jauh dari Tanah Air, saat mengetahui wilayah Tanah Air "nun jauh di sana" (betul kan, Bos?) "diobok-obok" negeri tetangga, saat melihat saudara sebangsa setanah air berjuang di negeri orang. Kalau bukan kita, siapa lagi? (meminjam slogan sebuah iklan). :D
Betul sekali om! lol
latief wrote on Mar 14, '05
Kalau bukan kita, siapa lagi? (meminjam slogan sebuah iklan). :D
Iklan apaan nih Kang
*maklum, udah lama gak nonton tipi he..he..*
latief wrote on Mar 14, '05
fanty said
bernapas pun terasa berat...
semoga semangat yang ada kemaren benar2 bisa dibawa ''pulang'' nanti
Kabarnya kebawa sampe pusing dan gak bisa kuliah ya
iniaku wrote on Mar 14, '05
latief said
*maklum, udah lama gak nonton tipi he..he..*
aku mah ada tipi bang..
tapi yang ada tipi china, india, thailand..
kok tipi indo gak ada yah
hehehehe, tau deh... kalo ada tipi indo, aku gak akan belajar
tapi asik nonton sinetron =))
bambangpriantono wrote on Mar 14, '05
Dasar penggemar sinetron neh! Huehehehehe
tianarief wrote on Mar 14, '05
latief said
Iklan apaan nih Kang
kalo gak salah, iklan layanan masyarakat wajib belajar
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help