
Malam ini BBM naik lagi. Antrean pun terjadi dimana-mana. Mulai dari bajaj hingga mobil bagus. Berebutan mengisi BBM dengan harga lama. Padahal berapa sih yang bisa diisi. Katakan 100 liter. Selisih harga baru dan lama untuk bensin Rp 600. Artinya menghemat 100 x Rp 600 = Rp 60 ribu. Untuk uang sejumlah itu, banyak orang rela mengantri berkilometer.
Syukurlah, kata Pak SBY, salah satunya bila mengikutkan program kompensasi, justru akan mengurangi kemiskinan. Jargon ini pun dijual lewat "iklan layanan pemerintah" yang dilansir
Freedom Institute milik Aburizal Bakrie. Pemerintah sudah menyiapkan dana kompensasi superbesar, Rp. 17,8 Trilyun.

Tapi siapapun tahu, kenaikan BBM akan diikuti gelombang kenaikan di segala bidang. Ya ongkos, ya sembako. Rezim berganti-ganti, setiap kenaikan BBM selalu berlindung dibalik kepedulian orang miskin yang akan mendapat subsidi silang. Kali ini yang dirancang adalah dana kesehatan dan dana pendidikan. Kalau ini gagal, anak-anak dari kalangan bawah akan semakin kehilangan kesempatan untuk merubah nasib, dan ujung-ujungnya keluarga itu akan miskin 7 turunan.

Subsidi adalah barang milik orang miskin yang sulit mereka dapat. Untuk memperoleh layanan kesehatan gratis harus melewati prosedur bertele. Mulai surat keterangan miskin dari RW. Iya kalau udah punya KTP. Kalau sakitnya semacam demam berdarah, bisa "tamat" sebelum surat miskin didapat.
Aku bermenung lama, sambil memandangi resepsionis jelita melayani calon pasien di Rumah Sakit Norwich. Disini, pengobatan gratis. Maka, untuk mendapatkan kamar, berlaku sistem reservasi. Pasien menginap, datang dengan membawa surat panggilan. Ah, seandainya bangsaku yang dilayani macam itu. Pastilah kaset lagu Iwan Fals berjudul
ambulan zigzag tak laku :
Suster cantik datang mau menanyakan
Dia menanyakan data si korban,
Dijawab dengan jerit kesakitan
Suster menyarankan bayar ongkos....pengobatan
Hai sungguh sayang korban tak bawa uang
Suster cantik ngotot lalu melotot dan berkata
Silakan bapak tunggu dimuka
Hai modar aku.....hai modar aku
Jerit si pasien merasa kesakitan Akhirnya, hai orang miskin, dilarang sakit!!!!