Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Blog EntrySopir Bis Menuju SorgaFeb 7, '05 6:49 AM
for everyone
Antrian di pintu sorga semakin panjang. Di barisan depan, nampak sejumlah pemuka agama. Tapi malaikat penjaga tak kunjung membuka gerbang. Hingga suatu saat, malaikat yang sedari tadi waspada, memanggil seseorang dari barisan jauh di belakang. Lelaki kurus, berpakaian kumuh itu maju, diikuti sejumlah mata yang menghunjam tajam. Lelaki itu, seorang sopir bis AKAP (antar kota antar propinsi) lalu dipersilakan masuk, mendahului pemuka agama yang segera protes keras. Malaikat menjelaskan dengan tenang. ["Sebagai sopir antar kota, ia membuat penumpangnya melek dan berzikir mengingat Allah. Kalian kebanyakan berzikir, tapi umatmu justru tertidur"]

Grrrr...., suara tawa pun memenuhi ruangan, disaat lelucon itu dilontarkan seorang intelektual muda Islam. Sebut saja namanya Abu. Abu lalu melanjutkan, bahwa leucon satiris ini ia maksudkan, bahwa berbuat kebajikan bagi sesama itu jauh lebih penting. Banyak orang lupa, bahwa melayani publik, adalah amalan yang mendatangkan pahala. Agama semestinya menjadi pegangan untuk membahagiakan manusia, agar sama-sama khusu' menyembah Sang Khalik.

Aku menempatkan lelucon ini dalam konteks pelayanan publik. Bukan diskusi agama. Seorang teman yang pernah menyisiri Eropa dan pernah pula naik haji bilang, "Orang Arab Islam, tapi pelayanan publiknya tidak islami. Sedang orang Eropa, sangat islami". Apa misalnya. Di belahan Eropa, banyak ditemui air minum yang bisa langsung dari kran. Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jangan coba minum langsung dari kran, kalau tak siap masuk UGD. Padahal Allah pertama kali menurunkan air yang bisa diminum tanpa dimasak itu adalah di tanah Islam, yakni air zamzam.

Selain air minum, bukti fisikal menonjol pemuliaan manusia adalah pelayanan terhadap orang cacat. Bus, gedung, jalan raya dibuat aksessibel terhadap orang cacat. Berbekal kursi roda, seorang cacat bisa berjalan-jalan tanpa pendamping. Ada pintu, lift, bahkan wc khusus penyandang cacat. Dia juga dengan mudah naik bus, menyeberang, menjalankan kursi di pedestrian luas yang tak dimasuki ojeg. Di bus, ada jembatan knock-down untuk naik turun, ada area khusus untuk penempatan kursi.

Bisakah ini dipraktekkan di Indonesia? Tentu saja ya. Aku pernah ke Istana Bogor jaman Presiden Wahid berkuasa. Layaknya gedung bekas Belanda, banyak undakan disana. Nah, disebelah tangga, ada jalur khusus selebar satu meter. "Ini khusus dibuat untuk ibu Sinta Nuriyah (First Lady kala itu yang menggunakan kursi roda)". Gus Dur tak egois, mementingkan keluarga. Pada jamannya pula, stasiun kereta api Gambir diproklamirkan familiar terhadap orang cacat. Yah, alah bisa karena dimula. Semoga.

Polite Notice:
Meski menyebut2 kata "sorga", "malaikat", "haji", tulisan ini bukan soal agama.

13 CommentsChronological   Reverse   Threaded
tianarief wrote on Feb 7, '05
latief said
orang Eropa, sangat islami
Betul Pak, bisa dirasakan. Itu yg dinamakan (meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat, mantan dosen saya) sebagai "kesalehan sosial". Juga peraturan yang memperhatikan kesehatan publik, seperti pengawasan emisi gas buang secara ketat dan sanksi keras bagi perokok di ruang publik --yang baru akan dicoba diterapkan di Jakarta.
latief wrote on Feb 7, '05
sanksi keras bagi perokok di ruang publik --yang baru akan dicoba diterapkan di Jakarta.
Bikin tulisan ttg ini dong pak. AKu lihat di Kompas, fotonya baru di Balaikota DKI saja.
tianarief wrote on Feb 7, '05
latief said
Bikin tulisan ttg ini dong pak
kan udah. http://tianarief.multiply.com/journal/item/206
latief wrote on Feb 7, '05
kan udah. http://tianarief.multiply.com/journal/item/206
Yupp, aku udah baca. Maksudku setelah diundangkan, apakah jalan. Atau malah ini objek baru bagi polisi yg menangkap he..he.. (pesimis mulu kita yak). 86, rojer...
tianarief wrote on Feb 7, '05
latief said
setelah diundangkan, apakah jalan
hehehe. sabar atuh. perdanya belum disahkan. katanyah, pertengahan februari inih.
iniaku wrote on Feb 7, '05
keadaan spt ini yg kadang buat kita miris...
manusia spt tidak ada harganya di tanah air..
jangankan yg cacat, yg sehat saja tidak berharga...
dekaakbar wrote on Feb 7, '05
Wah, si Oom ntar pulang bisa kaget deh liat Jakarta makin ... ehmm macetnya
iwan95 wrote on Feb 8, '05
Iya ...jadi bahan penting buat Introspeksi Diri :)
Thanx banget Mas :)
sering2 ya :)
latief wrote on Feb 8, '05
iwan95 said
Iya ...jadi bahan penting buat Introspeksi Diri :)
Thanx banget Mas :)
sering2 ya :)
Siippp...
Semoga ada bahan trus he..he..
t414su wrote on May 24, '07
lam kenal semuanya personil baru bro.....ehhh Jakarta terapung ya dan ada mono rel
matiangin wrote on May 25, '07
sudah lama nggak mampir ke multiply, gimana kabarnya bang latief ?

kalo ngebanding2in memang bikin frustasi... tapi boleh kan saya mimpi kalo negara kita nanti bisa negara yang manusiawi
latief wrote on May 25, '07
t414su said
ehhh Jakarta terapung ya dan ada mono rel
hehe..kayak iklan oke zone aja :p
salam kenal juga
latief wrote on May 25, '07
sudah lama nggak mampir ke multiply, gimana kabarnya bang latief ?

kalo ngebanding2in memang bikin frustasi... tapi boleh kan saya mimpi kalo negara kita nanti bisa negara yang manusiawi
iya, kemana aja bos..
semoga mimpi itu sgr tiba..
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help