Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Blog EntryPagar Makan JalananFeb 3, '05 4:29 PM
for everyone
Tinggal 50 meter sebelum tikungan tajam Eaton Park. Tapi supir bus belum menurunkan gas. Aku yang duduk di bagian atas bus double decker ini, udah mulai pegangan. Syukurlah, tak ada ban berdecit akibat rem mendadak, karena di pertigaan itu tak ada aral melintang.

Gaya orang nyetir disini memang bikin ciut nyali. Tapi karena mereka yakin semua orang taat aturan, maka semuanya berjalan oke. Bayangkan kalo kejadian tikungan tadi di Jakarta. Si sopir jelas sudah jadi pembunuh berdarah dingin. Pas di tikungan, ada bajaj sama angkot ngetem. Di belakangnya ada calo lagi teriak-teriak. Terus ada tukang teh botol dengan 2 pembeli. Ada jual soto menjorok ke jalan, dengan pembeli 3 orang. Lalu ada 2 orang menyeberang sembarangan. Muncul bus dengan kecepatan tinggi membelok. Minimal 10 tewas di tempat.

Apa yang membuat sopir yakin jalanan kosong. Pertama itu belokan. Ada garis kuning di jalan, pertanda dilarang parkir sepanjang tikungan. Kedua dilarang berjualan di pinggir jalan. Ketiga, 100 meter dari tikungan ada zebra cross lengkap dengan lampu lalulintas yang menyala merah bila diminta pejalan kaki. Keempat, kalaupun dia apes, nabrak, gak mungkin dipukuli massa.



Teman aku ini berkabar, pakar pendidikan Arif Rahman risau, sekarang orang lebih memilih memasang polisi tidur ketimbang membuat plang: jangan ngebut banyak anak-anak. Pasalnya, orang sudah lebih patuh kepada tanda-tanda penghalan fisik, daripada himbauan. Kerisauan yang nyata. Lihatlah betapa banyaknya separator di jalan-jalan Jakarta. Di Kedoya misalnya, dekat RCTI dan apartemen Kedoya, dipasang separator setinggi pinggang agar orang tidak membelok dan tidak menyerobot jalur lawan.

Bayangkan, kalau ada orang bijak yang memegang semboyan: "disiplin suatu bangsa dapat dilihat dari lalulintasnya" melihatnya. Pastilah dia menyangka disiplin bangsa kita disiplin ala kolonial. Main pecut, main paksa. Aku jadi ingat cerita guru waktu kecil, tentang beda pagar orang dan pagar kambing. Pagar orang cukup diberi tulisan dilarang masuk. Sedangkan pagar kambing, harus diberi penghalang sedemikian, sampai si kambing tak bisa loncat. Nah, kira-kita apakah kita marah kalau disebut bangsa kambing?

moyas wrote on Feb 3, '05
Bagus ceritanya, bang Latief. Indonesia memang masih setengah-setengah pengen jadi bangsa yang baik dan berdisiplin. Ada teman saya cerita ketika para TKI di Malaysia diusir secara besar pertama kali, di luar pagar Konsulat Jenderal RI di Kinabalu, mereka patuh dan tunduk thd aturan setempat. Kalau di kantor pos ikutan ngantri, begitu juga ketika lalu-lalang berkendaraan di jalan. Tetapi ketika sudah berada di dalam kompleks KJRI, tidak ada lagi yang namanya berbaris teratur rapi untuk registrasi dan mengambil Surat Jalan Laksana Paspor. Semrawut, berantakan.

Begitu juga saya observasi, ada banyak orang Indonesia kalau di luar negeri patuh dan tunduk dengan peraturan setempat: tidak membuang sampah sembarangan, tidak merokok di tempat yang dilarang merokok, tapi sekembalinya ke tanah air, semua itu main dilanggar seenaknya.

Bermental kambingkah bangsa ini?
latief wrote on Feb 4, '05
moyas said
Begitu juga saya observasi, ada banyak orang Indonesia kalau di luar negeri patuh dan tunduk dengan peraturan setempat: tidak membuang sampah sembarangan, tidak merokok di tempat yang dilarang merokok, tapi sekembalinya ke tanah air, semua itu main dilanggar seenaknya.
Repotnya, kalo kita patuh sendirian, justru merasa jadi orang aneh kali Daeng. Perlu ada menteri urusan moral kayaknya ya
andrini wrote on Feb 4, '05

mungkin karna jalanan di indonesia sudah jadi rimba, kalo gak jalan ala animal mungkin gak bisa jalan sama sekali. dirku aja dari pejalan kaki yang bertatakrama - dididik oleh jalanan jakarta jadi... : |
matiangin wrote on Feb 4, '05
latief said
"disiplin suatu bangsa dapat dilihat dari lalulintasnya"
tingkat kepedulian seseorang kepada orang dan lingkungan sekitarnya juga bisa dilihat dari ketertiban berlalu lintas juga tuh...
jadi orang2 yang tidak disiplin berlalu lintas artinya orang yang apathis habis
mereka nggak tahu dengan mangkal diprapatan atau sejenisnya, berapa liter bbm yang habis, berapa banyak polutan yang dilepas keudara,dan berapa banyak polusi suara yang dihasilkan klakson dan mulut2 orang2 yang sudah stress
matiangin wrote on Feb 4, '05
moyas said
banyak orang Indonesia kalau di luar negeri patuh dan tunduk dengan peraturan setempat:
menurut saya sih orang2 itu masih "mantap" waktu baru kembali ke Indonesia... tapi jadi frustasi dicurangin terus2an
latief wrote on Feb 5, '05
berapa banyak polusi suara yang dihasilkan klakson dan mulut2 orang2 yang sudah stress
Disini banyak kakek dan nenek yang masih nyetir sendiri. Kalo di Jakarta, mungkin yg darah tinggi, udah langsung stroke. Yang ambeien udah gak bisa duduk ya
latief wrote on Feb 5, '05
andrini said
mungkin karna jalanan di indonesia sudah jadi rimba, kalo gak jalan ala animal mungkin gak bisa jalan sama sekali.
Susahnya gak ada "kesamaan moral" supaya gak melanggar. Kita disini, kalo mau nyebrang sembarangan suka saling negor: Malu dong, ketauan Indonesianya. Nah, kalo ngeliat orang sembarangan, suka bilang: siapa sih itu, Indonesia banget. Lucunya, kalo bule yg ngelakuin, tetap aja: "Tuh bule kali pernah lama tinggal di Indonesia. Duh, naseebbb..
matiangin wrote on Feb 5, '05
latief said
banyak kakek dan nenek yang masih nyetir sendiri
disini lebih hebat lagi...
udah budeg, buta, kadang2 bisa berubah kayak power ranger tergantung sumpah orang yang ngerasa "dikerjain"
kadang2 jadi anting, monet, kula, ba...
disono gak ada binatang yang bisa nyetir kan?
latief wrote on Feb 6, '05
disono gak ada binatang yang bisa nyetir kan?
Kekekekekekkkk...
Iya ya, dahsyat banget tuh negara.
Disini, bunyi klakson aja penghinaan euy
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help