
Aku terkantuk diayun Bus 25 yang membawaku dari rumah sakit Norwich menuju rumah,
Gloucester. Udara dingin dan kelelahan bekerja menyempurnakan ayunan bus yang bak buaian memaksa mata terpejam. Di depanku, gadis Norwich menyetel musik di walkman-nya sampai jelas terdengar. Saat menggeser duduk, mataku tertumbuk pada majalah yang dipegang seorang ibu yang duduk terpisah gang. Layout majalah itu mengingatkan aku pada majalah
Pantau.

Suatu kali, si ibu menerima telpon, dan membalik majalahnya. Oho.. benar dugaanku,
The New Yorker. Majalah ini memang sering disebut sebagai acuan Pantau. Aku pun memberanikan diri mendekat si ibu. Aku tanya, dimana bisa membeli majalah itu. Si ibu ternyata berlangganan.
[Ibu jurnalis]
[Gak, suka aja, abis tulisannya enak]
Aku terdiam, kehabisan bahan pembicaraan (
sejujurnya kehabisan vocabulary).
[Mau baca? saya punya 1 lagi di tas]
[Boleh deh, ibu turun dimana]
[Gak soal, bawa pulang aja, saya udah tamat kok] kata si ibu sambil menyodorkan majalah tertanggal 10 Januari 2005]
[Ah, gak usah deh, ini khan baru]
[Tak apa, saya senang orang lain menyukai yang saya suka]
Lalu majalah pun berpindah tangan. Aku tergagap, antara senang dapat majalah yang selama ini hanya aku lihat di
online, dengan perkataan si ibu yang bermakna sangat dalam. Bukankah ini ajaran Nabi, "berikanlah sesuatu yang kamu senangi kepada orang lain". Ah, pelajaran memang bisa dipetik dimana-mana. Entah itu di bus sekalipun. Kiri, bang.... (Halte York Street hampir saja lewat)