Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Blog EntryNew Yorker dalam BusJan 19, '05 3:37 PM
for everyone
Aku terkantuk diayun Bus 25 yang membawaku dari rumah sakit Norwich menuju rumah, Gloucester. Udara dingin dan kelelahan bekerja menyempurnakan ayunan bus yang bak buaian memaksa mata terpejam. Di depanku, gadis Norwich menyetel musik di walkman-nya sampai jelas terdengar. Saat menggeser duduk, mataku tertumbuk pada majalah yang dipegang seorang ibu yang duduk terpisah gang. Layout majalah itu mengingatkan aku pada majalah Pantau.




Suatu kali, si ibu menerima telpon, dan membalik majalahnya. Oho.. benar dugaanku, The New Yorker. Majalah ini memang sering disebut sebagai acuan Pantau. Aku pun memberanikan diri mendekat si ibu. Aku tanya, dimana bisa membeli majalah itu. Si ibu ternyata berlangganan.
[Ibu jurnalis]
[Gak, suka aja, abis tulisannya enak]

Aku terdiam, kehabisan bahan pembicaraan (sejujurnya kehabisan vocabulary).
[Mau baca? saya punya 1 lagi di tas]
[Boleh deh, ibu turun dimana]
[Gak soal, bawa pulang aja, saya udah tamat kok] kata si ibu sambil menyodorkan majalah tertanggal 10 Januari 2005]
[Ah, gak usah deh, ini khan baru]
[Tak apa, saya senang orang lain menyukai yang saya suka]

Lalu majalah pun berpindah tangan. Aku tergagap, antara senang dapat majalah yang selama ini hanya aku lihat di online, dengan perkataan si ibu yang bermakna sangat dalam. Bukankah ini ajaran Nabi, "berikanlah sesuatu yang kamu senangi kepada orang lain". Ah, pelajaran memang bisa dipetik dimana-mana. Entah itu di bus sekalipun. Kiri, bang.... (Halte York Street hampir saja lewat)

imazahra wrote on May 1, '05
Iyya Bang, di negeri yang banyak manusianya sudah terang2an mengakui dirinya tak beragama, kadang2 kita temui sosok2 sederhana yang 'haniif' sebagaimana yang diajarkan oleh nilai2 Islam :-) walau mereka sendiri bukanlah moslem. Nilai2 kebajikan memang selalu universal adanya :-)
tianarief wrote on May 2, '05
subhanallah. kalo menurut dosenku dulu, Jalaludin Rakhmat, si ibu itu sudah memiliki "kesalehan sosial". sudahkah kita? (*jadi malu) :D
latief wrote on May 2, '05
sudahkah kita? (*jadi malu) :D
Ikutan malu kang. Kadang kita merasa kelewat benar hanya krn kita sudah beragama ya
latief wrote on May 2, '05
kadang2 kita temui sosok2 sederhana yang 'haniif' sebagaimana yang diajarkan oleh nilai2 Islam :-) walau mereka sendiri bukanlah moslem. Nilai2 kebajikan memang selalu universal adanya :-)
Positifnya, semoga kita bisa mencontek kebaikan ini. Jadi, kita unggul, punya agama dan punya kebajikan pula. Amin
sepasangmatabola wrote on Jun 24, '06
Iyya Bang, di negeri yang banyak manusianya sudah terang2an mengakui dirinya tak beragama, kadang2 kita temui sosok2 sederhana yang 'haniif' sebagaimana yang diajarkan oleh nilai2 Islam :-) walau mereka sendiri bukanlah moslem.
Walaah mbak, saya juga muslimah, tapi menurut saya nggak usahlah kita merasa diri kita paling benar... Itu kan kerjaannya Gusti Allah yang paling berhak menilai kita. Apakah menjadi muslim itu sudah jaminan masuk surga? Kalau menurut saya sih, hahaha... belum tentu! Seorang kawan muslim yang tinggal di AS pernah mencela kaum non muslim di sini, karena memang ada orang yang mengaku tak beragama. Tapi kalo kita pake otak, sebelum nuduh mereka, tanya dong baik-baik. Elu percaya Tuhan gak? Ternyata banyak orang yang saya kenal ngaku tidak mengikuti suatu agama tertentu, mereka itu sangat percaya kepada Tuhan. Saya rasa Tuhan tidak "sekecil" seperti kita kaum muslim pikirkan, yaitu Beliau hanya sayang kepada kita. Kalo itu memang benar, ngapain Tuhan nyiptain manusia yang beda-beda. Buang-buang tenaga aja bikin manusia cem-macem bentuknya cuman untuk dimasukkin neraka doang, sementara semua yang muslim (termasuk si koruptor, si pencuri, pemerkosa, pembunuh, dan semua yang jelek) dimasukkan surga. Maaf mbak, kok rasanya gak masuk akal yah? :D
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help