Perlahan dan ketakutan, aku menyeberangi jalan di depan kantor. Aku ingat Udin dan Hariyadi. Jalanan itu sudah dilengkapi slower dan lampu kuning kedap kedip, tapi laju kendaraan tiada mengurang. Mungkin perlu "merusak" jalanan, sebagai kekuatan pemaksa. Ah, biarlah itu urusan penguasa.Hups, selamat juga tiba diseberang. Disana aku bertemu Ibu Kantin, yang juga menunggu angkot. Ia menuju Gang Seratus, beberapa ratus meter dari stasiun Tanjung Barat. Kami naik angkot S15A, Taman Mini-Ragunan.
Kami pun berbincang berbagai hal. Sewa lapak di kantin, pengunjung yang berkurang, sampai harga-harga yang meroket. Tentu ongkos yang naik sepihak, meski pemerintah belum menetapkan tarif resmi. "Pemerintah gak naik angkot kali ya pak, makanya terlambat netapinnya", katanya.
Menjelang Pasar Rebo ia bersiap turun. Tadinya aku kira dia akan turun di bawah jalan layang Tanjung Barat, lalu menyambung arah Depok, seperti yang aku lakoni. "Biar hemat, pak" kilahnya.
Rupanya ia punya kalkulasi jitu. TPI-Pasar Rebo 2500 perak, Pasar Rebo-Gang Seratus 2500 perak juga. Kalau sampai Tanjung Barat 3500 dan nyambung lagi 2000. "Lumayan bisa hemat 500 pak".
My God!. Sampai angka 500, dimana sebatang rokok pun tak dapat, ia pertimbangkan. Bagi mereka yang ngopi saja 20 ribu, kongkow menghabiskan ratusan ribu, tentu saja hemat ala Gang Seratus ini tak masuk akal. Tak heran pemerintah terlambat membenahi angkutan publik, sebab penggunanya masih banyak yang tak memikirkan keamanan dan kenyamanan itu. Murah dulu, nyaman kemudian.