


Tulisan ini dimuat di Koran SINDO, 30 Desember 2007NASI lemak siang itu lebih nikmat dibanding di Malaysia sekalipun. Meski uba rampe-nya tak lengkap, menyantapnya nun jauh di Belfast, Irlandia Utara, memberikan rasa berbeda. Restoran Istana Malaysia itu berada tepat di jantung Kota Belfast, tepatnya di jalan menuju kawasan Queen University of Belfast. Pelayan restoran terperangah ketika aku utarakan keinginan melihat mural, gambar dinding di Shankill Road dan Falls Road. Dengan bahasa Melayu yang fasih, dia memintaku membatalkan bepergian ke dua kawasan “bergolak” tersebut. Aku menanyai pegawai hotel. Barangkali pelayan restoran tadi melarang karena solider sesama puak Melayu saja, tapi ternyata pegawai hotel pun bersikap serupa. Namun, tekadku sudah bulat, harus ke sana.
Kususuri jalan menuju pusat kota, mencari informasi lain. Lalu lalang jeep polisi berwarna putih dengan kaca dan lampu dikerangkeng seperti yang ada di film In the name of the Father, sedikit membenarkan larangan tadi.Apalagi, pengumuman yang terpajang di sejumlah toko bahwa toko bisa sewaktu-waktu tutup jika terjadi gangguan.
Akhirnya, aku memutuskan menggunakan bus khusus tur keliling kota, city sightseeing. Rute bus tingkat dengan atap terbuka itu mencakup historic tour, Titanic tour, dan political tour. Bagian terakhir inilah yang akan melewati mural dan dinding perdamaian, yang menandai kota ini pernah dilanda konflik berdarah.
Melintasi Sungai Lagan, mengingatkanku akan Krueng Aceh... <Lengkapnya DISINI>
Berat memang, menjadikan kenangan buruk sebagai artifak dokumentasi kehidupan. Namun, tanpa itu pun, riwayat tak akan pernah lekang dikunyah gerigi waktu. Justru dari sinilah,banyak pelajaran bisa dipetik,agar tidak terjerembab ke jurang serupa. Buah manis dari konflik di Belfast adalah rumah sakit bedah dan kajian trauma konflik yang tersohor di Inggris Raya.