Sebelum terjadinya hari Kiamat akan terdapat kematian-kematian yang mengerikan, dan sesudahnya akan terjadi tahun-tahun gempa bumi" [HADITS]
Aku memandangi gambar mesjid raya Baiturrahman ini, dengan takjub dan pilu. Takjub karena bencana sedahsyat itu tak mampu menggoyahkan mesjid. Pilu, karena menjadi tau betapa dahsyatnya bencana yang melanda Aceh ini. Kepiluan itu dilengkapi Wardah, alumni S-2 UEA asal Aceh, yang sesenggukan kalau melihat gambar terbaru tentang dampak bencana Aceh. Ia belum mendapat kabar keluarganya disana. Tak cuma tangisan Wardah yang membuatku makin sedih. Ia menjadi kamus untuk melengkapi pengatahuanku tentang Aceh. Aku memang pernah dua kali berkunjung ke Aceh. Pertama,
2 minggu dan tahun lalu,
1 bulan. Pengetahuanku tentang kota ini, membuatku semakin pilu saja. Mesjid raya dan mall Pante Pirak yang ditengah kota saja kena, apalagi pelabuhan Ulhe Lhe dan pantai Lhok Nga.

Aku juga rindu kepada kawan-kawan yang dulu bersama di Aceh. Zamzami, supir yang setia mengantar makan ke Rex,
ngopi di Ulee Kareng, hingga menembus kengerian Pidie. Bapak-bapak di Telkom yang membantu
feeding gambar ke Jakarta. Mbak-mbak di Hotel Kuala Tripa. Ah, semoga mereka semua selamat dari "kiamat" ini.
Aku juga khawatir soal Aceh ke depan. Sama seperti perang, bencana adalah
notoriously slow news. Sehabis kehebohan pencarian korban, seremoni kunjungan pejabat, pemberian bantuan para saudagar dan hartawan, maka perhatian terhadap korban secara perlahan menipis.

Warga Aceh yang dimiskinkan oleh konflik berkepanjangan, akan semakin miskin. Anak-anak, yang selama perang sesama bangsa, kehilangan waktu belajar karena sekolah terbakar atau guru ketakutan, akan semakin terbodohkan. Ibu-ibu, yang selama ini memikul beban berat ekonomi, karena suaminya mati tertembak, ditangkap, atau lari ke hutan, akan hidup semakin berat.
Kini, akibat "kiamat" ini, nasib Aceh menjadi perhatian semua pihak. Ada uang dan bahan pangan serta obat bernilai milyaran rupiah, yang datang kesana. Semoga, bantuan ini tak jatuh ke tangan manusia culas, dan tak tahu diri. Di tengah tragedi dahsyat gempa, banyak orang menari di atas mayat-mayat, mencari peluang korupsi dan publikasi diri. Jangan sampai..!!
Sudah cukup duka lara, dari pulau ujung nusantara itu.