
Ketika melihat aku memakai sarung,
Ibu ini menulis: [You can take the man from Indonesia, but you can't take the Indonesian from the man]. Maka tanpa disadari, sarung telah dicap sebagai identitas ke-indonesia-an.

Sarung juga memiliki makna kesederhanaan. Tengok saja ketika Gus Dur menjadi Presiden. Orang menyebutnya melakukan de-mistifikasi (
opo iki) Istana, karena membiarkan orang-orang NU bersarung dan bersandal jepit kulu kilir masuk Istana. Gus Dur pemimpin rakyat, Gus Dur pemimpin sederhana. Ya, sarung menjadi simbol kerakyatan dan kesederhanaan. Tapi, kalau kyai, sarungan
trus naik pajero, apa iya masih disebut sederhana? Kata orang bijak,
don't judge the book by its cover.
Setelah bekerja di Rumah Sakit, aku baru tau identitas para dokter. Stetoskop. Alat yang memiliki alat peraba itu, selalu melilit di leher mereka-mereka yang menyandang predikat dokter. Kemanapun mereka pergi, makan di kantin atau shalat sekalipun. Suatu kali dengan berbekal Inggris pas-pasan aku nekat
nanya. [Excuse me, it's just curious, kok kemana2 bawa ituan sih]. Jawabnya, buat jaga-jaga kalau ada emergency. Aku manggut-manggut, meskipun dalam hati bertanya, kok bukan bawa suntikan.

Ternyata, stetoskop ini memang menjadi penanda umum. Kalau ada orang tua yang
pengen anaknya kelak jadi dokter, waktu kecil difoto dengan digandoli stetoskop. Mungkin sama seperti orang tua yang ingin anaknya jadi serdadu, pasti dipotret dengan baju militer lengkap dengan baret dan bedil-bedilan.
Itulah identitas. Nah, sebagai negara paling korup di dunia, mungkin menarik jika pemimpin-pemimpin kita diwajibkan memakai jas corak uang. Ah, keenakan dia, disangka kaya.
Gimana kalau, jas dengan corak tikus?