Aku berjalan bergegas menuju bus stop kampus UEA, dengan sebatang
Dji Sam Soe Black ditangan.

Seseorang melampauiku, dan bertanya apakah aku dari Indonesia.
[âÂÂHow do you know, IâÂÂm, from IndonesiaâÂÂ]. Dari bau rokoknya, pasti
clove cigarette. Rupanya mahasiswa asal Kanada itu, pernah dikenalkan dengan rokok Djarum. Sebatang 234 Premium pun pindah tangan.
Kali lain, aku melintasi deretan antrian panjang di bus stop dekat rumah. Beberapa orang langsung terbatuk-batuk. Tapi orang didekatku, langsung menebak aku dari Indonesia. Anak London itu, menyelesaikan S-1 di
SOAS London (The School of Oriental and African Studies) yang banyak anak Indonesianya. Sebatang pindah sebagai tanda persahabatan.

Ajaib memang. Rokok bisa menjadi penanda, identitas kebangsaan bernama Indonesia. Setelah bekerja di Rumah Sakit yang melarang merokok sembarangan, aktivitas membakar duit ini, hanya boleh dilakukan di ruang kecil dan tertutup. Disini, bau tajam 234 pun semakin menggila. Maka seruan,
What smell is this?,
Strong cigarette, guy?, atau
special stuff? acap terdengar.
Meski âÂÂbenciâ dengan bau dan dampaknya, mereka kagum dengan kemasan dan durasi. Pasti tembakaunya khusus dan banyak. Pastilah mahal. Mereka kaget, ketika aku bilang hanya 10 ribu perak, alias 70 penny. Padahal ini adalah rokok paling mahal di Indonesia.
Tentu saja mereka bingung. Marlboro dan Lucky Strike disini, 5 Pound (kl 80 ribu rupiah). Aku jelaskan, negara kami punya pabrik sendiri, sumber daya tembakau yang melimpah dan terkenal. Tak lupa, aku kisahkan, tembakau Deli, yang membuat Belanda termehek-mehek ingin menjajah Sumatera Utara, seperti mereka menjajah Ambon untuk rempah-rempah. Diplomasi yang baik, khan.

Tapi maaf beribu maaf, pak
Fahmi Idris , Menteri Tenaga Kerja kami. saya membuka rahasia negara. Ini karena seorang ibu dokter bilang, âÂÂmereka juga punya tenaga kerja murahâÂÂ. Yah, buat apalagi berbohong, karena konteks pembicaraan adalah kebanggaan harga rokok yang murah. Terpaksa, aku buka saja, bahwa upah minimum buruh kita, 450 ribu hingga 700 ribu rupiah, yang setara dengan 30-45 Pound. Saat mereka geleng-geleng kepala, aku segara sambung: âÂÂ
Eits, jangan lupa, ini diatas batas
poverty line yang ditetapkan
UNDP, 1 dollar per hari. Berarti mereka tidak miskin. Sekali lagi,
TIDAK MISKIN.
Untung mereka tidak kreatif bertanya. Coba kalau mereka
nanya, bagaimana mereka makan selama kerja. Karena di Rumah Sakit ini, hanya ada satu kantin, ya untuk direktur RS, ya dokter, ya perawat, hingga tukang sapu dan tukang kebun. Jangan khawatir, suatu saat andai pertanyaan ini sampai, aku sudah punya jawaban diplomatis. Para buruh itu tidak mau makan di restoran, sebab itu kemewahan yang disodorkan kapitalisme. Mereka memilih makan di warung-warung kecil yang terselip di pojokan pabrik, atau
nangkring di pagar yang dibuka paksa, untuk menghidupkan ekonomi rakyat. Elok?.