
Pagi itu berulang lagi. Bus 25 bertingkat dengan kapasitas duduk 76 hanya diisi 3 orang. Aku naik di bus stop York Street jam 5.18, dan 2 ârekanâ itu sudah dengan gayanya kemarin. Yang berwajah Tionghoa, tidur dengan kepala menempel di kaca, sementara bule paruh baya, menatap lurus ke depan dengan
walkman menyala. Ritual ini menjadi keseharianku sejak menjadi âpahlawan devisaâ di rumah sakit Norwich, awal pekan keempat November.
Dulu, sewaktu mendengar kisah para intelektual yang bersekolah di luar negeri, bekerja menjadi tukang cuci piring di restoran, tukang antar pizza (sehingga gelarnya
PHD=
Pizza Hut Delivery diperoleh sebelum lulus), aku menganggap mereka orang yang
humble dan rendah hati. Kini aku tau, mereka rela mengerjakan pekerjaan
unskill labour itu, karena gajinya jauh lebih dari cukup untuk hidup dan liburan.
Awalnya, ketika aku mencari pekerjaan, adalah beralaskan mencari kesibukan dan
to practise my english. Paling tidak memperlancar
pronounciation kata seperti
be carefull, wet floor mam, dan
Dont run, boy. Aku kerja 4 hari on dan 4 hari off, seharinya 10 jam, dari jam 6 sampai 16. Gajinya sesuai UMR Inggris, 5 Pound per jam. Sebulan, hitung sendiri
deh, gak enak sama boss di
kantor Jakarta.
Sekarang mengenai kerjaan. Ah, aku
gak enak banget
nih mau cerita. Jangan
deh ya, aku aja yang merasa paling kenal siapa aku, malu kok. Sampai-sampai kalau lagi bekerja, aku menjauhi kaca.
Gak berani
ngaca, gitu. Padahal, aku
kan menikmati duitnya setiap dua pekan.
Yang menarik justru proses panjang untuk mendapat pekerjaan ini. Ada formulir isian yang banyak sekali. Ada wawancara, dan tes kesehatan. Untuk yang akan bekerja di
hi-risk area, seperti ruang operasi, wajib mengikuti
infection control. Untuk yang kebagian di ruang anak-anak, wajib mendapat surat bebas pedofilia dan narkoba dari polisi. Aku, yang bekerja di publik area, hanya kebagian
x-ray. Bayangkan dengan di Indonesia. Paling-paling lewat perbincangan begini:
âeh, lu punya sodara yang tahan bau gak. Bawa deh kemariâ. Beres.
Waktu wawancara juga sudah dibahas
job desk. Jadi, nggak ada
tuh, [âhei kamu, ambilin barang ibu di mobilâ]. Makanya, banyak yang mengambil pekerjaan ini, terutama akhir pekan, adalah mahasiswa S-2 dan S-3 di
UEA. Karena mahasiswa, mereka menggunakan istilah keren untuk pekerjaan âsederhana" ini. Misalnya,
floor and building maintenance, atau CSO
(Cleaning Service Officer),
plesetan dari RSO
(Regional Service Officer), orang yang menangani
awardee British Chevening.
Diawal bekerja, ada yang namanya
induction. Bayanganku, akan diajari mengoperasikan mesin. Ternyata membahas soal keselamatan kerja, seperti menyelamatkan diri dari kebakaran, dan pemasangan tanda-tanda. Sang menejer training bilang, kita kerja untuk keselamatan dan kenyamanan orang lain, yang datang untuk mencari kesehatan.

Asli 4 hari pertama, aku ditegor 2 kali. Pertama lupa masang tanda
wet floor, kedua aku
ngepel sekaligus, tidak setengah bagian supaya orang lewat tak menginjak lantai basah. Rumit amat, pikirku. Padahal, kalau terjadi kecelakaan, apa
sih susahnya jubir rumah sakit buru-buru bilang: âpekerja kami sudah bekerja sesuai
protapâ. Lalu sekuriti juga mengumumkan: âSetelah kami selidiki, ternyata sepatu yang dipakai korban sudah aus, dan pada saat kejadian ia tidak melihat jalan, karena asyik bercanda dengan temannya".
Lupa, aku kerja pakai seragam. Biru pula. Disini semua bagian punya seragam sendiri. Jadi, begitu lihat seseorang, sudah bisa dipastikan kapasitas dan kapabilitasnya.
You are what you wear. Bukan
think, karena kerjanya
gak mikir. Begitulah. Karena
gak pakai mikir, capeknya beda. Hanya capek fisik, seperti habis berolahraga. Sementara, pikiran lega-lega saja. Apalagi, kalau mampu membuang jauh-jauh perasaan malu, sungkan. Caranya, bayangkan saja tambahan kocek di rekening setiap dua pekan.
Break...Be,
break..!!!