Menatap Tanahair dari Tanah Blair

Blog EntryPahlawan DevisaNov 27, '04 5:09 PM
for everyone
Pagi itu berulang lagi. Bus 25 bertingkat dengan kapasitas duduk 76 hanya diisi 3 orang. Aku naik di bus stop York Street jam 5.18, dan 2 “rekan” itu sudah dengan gayanya kemarin. Yang berwajah Tionghoa, tidur dengan kepala menempel di kaca, sementara bule paruh baya, menatap lurus ke depan dengan walkman menyala. Ritual ini menjadi keseharianku sejak menjadi “pahlawan devisa” di rumah sakit Norwich, awal pekan keempat November.

Dulu, sewaktu mendengar kisah para intelektual yang bersekolah di luar negeri, bekerja menjadi tukang cuci piring di restoran, tukang antar pizza (sehingga gelarnya PHD=Pizza Hut Delivery diperoleh sebelum lulus), aku menganggap mereka orang yang humble dan rendah hati. Kini aku tau, mereka rela mengerjakan pekerjaan unskill labour itu, karena gajinya jauh lebih dari cukup untuk hidup dan liburan.

Awalnya, ketika aku mencari pekerjaan, adalah beralaskan mencari kesibukan dan to practise my english. Paling tidak memperlancar pronounciation kata seperti be carefull, wet floor mam, dan Dont run, boy. Aku kerja 4 hari on dan 4 hari off, seharinya 10 jam, dari jam 6 sampai 16. Gajinya sesuai UMR Inggris, 5 Pound per jam. Sebulan, hitung sendiri deh, gak enak sama boss di kantor Jakarta.

Sekarang mengenai kerjaan. Ah, aku gak enak banget nih mau cerita. Jangan deh ya, aku aja yang merasa paling kenal siapa aku, malu kok. Sampai-sampai kalau lagi bekerja, aku menjauhi kaca. Gak berani ngaca, gitu. Padahal, aku kan menikmati duitnya setiap dua pekan.

Yang menarik justru proses panjang untuk mendapat pekerjaan ini. Ada formulir isian yang banyak sekali. Ada wawancara, dan tes kesehatan. Untuk yang akan bekerja di hi-risk area, seperti ruang operasi, wajib mengikuti infection control. Untuk yang kebagian di ruang anak-anak, wajib mendapat surat bebas pedofilia dan narkoba dari polisi. Aku, yang bekerja di publik area, hanya kebagian x-ray. Bayangkan dengan di Indonesia. Paling-paling lewat perbincangan begini: “eh, lu punya sodara yang tahan bau gak. Bawa deh kemari”. Beres.

Waktu wawancara juga sudah dibahas job desk. Jadi, nggak ada tuh, [“hei kamu, ambilin barang ibu di mobil”]. Makanya, banyak yang mengambil pekerjaan ini, terutama akhir pekan, adalah mahasiswa S-2 dan S-3 di UEA. Karena mahasiswa, mereka menggunakan istilah keren untuk pekerjaan “sederhana" ini. Misalnya, floor and building maintenance, atau CSO (Cleaning Service Officer), plesetan dari RSO (Regional Service Officer), orang yang menangani awardee British Chevening.

Diawal bekerja, ada yang namanya induction. Bayanganku, akan diajari mengoperasikan mesin. Ternyata membahas soal keselamatan kerja, seperti menyelamatkan diri dari kebakaran, dan pemasangan tanda-tanda. Sang menejer training bilang, kita kerja untuk keselamatan dan kenyamanan orang lain, yang datang untuk mencari kesehatan.

Asli 4 hari pertama, aku ditegor 2 kali. Pertama lupa masang tanda wet floor, kedua aku ngepel sekaligus, tidak setengah bagian supaya orang lewat tak menginjak lantai basah. Rumit amat, pikirku. Padahal, kalau terjadi kecelakaan, apa sih susahnya jubir rumah sakit buru-buru bilang: “pekerja kami sudah bekerja sesuai protap”. Lalu sekuriti juga mengumumkan: “Setelah kami selidiki, ternyata sepatu yang dipakai korban sudah aus, dan pada saat kejadian ia tidak melihat jalan, karena asyik bercanda dengan temannya".

Lupa, aku kerja pakai seragam. Biru pula. Disini semua bagian punya seragam sendiri. Jadi, begitu lihat seseorang, sudah bisa dipastikan kapasitas dan kapabilitasnya. You are what you wear. Bukan think, karena kerjanya gak mikir. Begitulah. Karena gak pakai mikir, capeknya beda. Hanya capek fisik, seperti habis berolahraga. Sementara, pikiran lega-lega saja. Apalagi, kalau mampu membuang jauh-jauh perasaan malu, sungkan. Caranya, bayangkan saja tambahan kocek di rekening setiap dua pekan. Break...Be, break..!!!

imaabdul wrote on Dec 4, '04
Babeh, koq ngga diceritain nih tentang si Supervisor Breaaaaak!!!!?? he he he... kan asyik tuh!!! ha ha
sugiggs wrote on Jan 6, '05
cerita yang menarik.. thanks for sharing....
well nasib saya bakal tidak jauh2 amat ama kamu kalo jadi melanjutkan sekolah di luar negeri hehe......

tidak perlu malu..kita kan tidak berbuat kejahatan ^.^
setidaknya lebih baik daripada hanya sekedar mengemis atau minta uang dari ortu
latief wrote on Jan 6, '05
sugiggs said
tidak perlu malu..kita kan tidak berbuat kejahatan ^.^
setidaknya lebih baik daripada hanya sekedar mengemis atau minta uang dari ortu
Jgn ingat malunya bos, tapi ingat gajinya he..he..
tianarief wrote on Mar 3, '05
latief said
membuang jauh-jauh perasaan malu, sungkan
iya, gak perlu malu bos. apalagi ada honornya. saya juga di sini gak malu, nyapu, ngepel, nyuci, macul (di rumah) :P salut deh buat anak gang kober (bukannya ini di kebon nanas jaktim?).
latief wrote on Mar 4, '05
anak gang kober (bukannya ini di kebon nanas jaktim?).
Depok boss. Kalo mo pulang Citayam, bisa turunlah sesekali di stasiun UI. Kita ngariung
susje wrote on Mar 4, '05
Hehehe Bang Latief, jadi inget pengalaman saya kerja di restoran nih... abis susah banget cari kerja di sini (apalagi dg bhs belanda minim kayak daku). Walhasil, suatu hari aku keukeuh minta kerja dapur sama org Indo yg punya resto di sini (pdhal saat itu dia lagi ngga cari org sih), tp krn kesian, diterima jugalah awak dg kapasitas seadanya ini hihihi...
latief wrote on Mar 4, '05
susje said
abis susah banget cari kerja di sini (apalagi dg bhs belanda minim kayak daku).
disini rada mudah. Apalagi di RS itu. Hampir semua anak Indonesia kerja disitu turun temurun. Lumayan, UMRnya gak jelek2 amat he..he..
sundarimichael wrote on Mar 10
salam kenal Bang dari jerman nih :)
wah, aku juga baru jadi buruh sebulan ini. belum gajian, nunggu tengah bulan. weleh.
tapi kayaknya memang gitu yak. meski memang kerja fisik yg ga mikir, tapi profesional. *cihuy, gaya ih*. itung2 olahraga gratis. hehehe
latief wrote on Mar 10
salam kenal Bang dari jerman nih
salam kembali..
selamat gajian.. pasti rasanya lebih nikmat, soalnya dapetinnya berkeringat hehe
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help