Matahari yang beranjak meninggi, menemani perjalanan menembus kampus UI. Pohon menjulang, danau, dan udara segar membawa kenangan ke masa kecil di kampung. Suasana kampung mengental, karena atas nama keamanan, akses keluar masuk dibuat kecil, satu motor tak bersilih.
Keluar dari akses Kukel (kukusan Kelurahan), di pertigaan dekat halte gymnasium, aku bersiap berbelok ke kanan. Sein pun berkedip. Dari arah kanan melaju motor dengan sein kiri menyala. Mengira dia belok, aku maju. Eh, rupanya nyala sein itu bukan pertanda belok, tetapi pertanda tua (baca: lupa). Seperti biasa, saling rem, saling senyum, sama-sama melaju. Kampungan tapi santun.
Situasi babaliut, kata orang Barat juga terjadi menjelang stasiun Pondokcina. Motor, mobil melaju saja tanpa aturan mana yang menunggu, siapa yang melaju.Herannya, jarang sekali ada senggolan. Semua mahfum, sumarah menerima fakta. Padahal, pastilah ada aturan "dahulukan lurus" yang ditandai dengan rambu tanda seru. Bahkan di Dinas Perhubungan sana, ada bagian yang namanya Seksi Persimpangan Sebidang. Aku berpikir, jangan-jangan kalau diatur malah banyak tabrakan. (Lihat: Give Way..Give WAy..Now..)
Salah kaprah macam ini menjadi budaya, yang seolah-olah kesalahan itu menjadi benar karena berlangsung terus menerus. Menunggu bukan di halte, turun di lampu merah, nyebrang dimana mau, dan berderet kebiasaan lain. Nrimo ing pandum, sehingga tak ada LSM yang berminat di ranah pemberdayaan masyarakat agar taat aturan lalulintas. Media pun segendang sepenarian. Ketika ada motor menyerobot jalur busway lalu tertabrak, (Lihat: Pekerja Tewas Ditabrak Busway), busway sebagai pemilik sah jalur dipersalahkan. Sebuah framing yang tidak mengajak masyarakat memahami dan menaati aturan.
Oho.. Ternyata ketidakteraturan itu juga pemberi kehidupan. Kalau semua teratur, polantas dapat apa, pak ogah dapat apa, mat calo makan apa. Maka, mari tidak teratur. Supaya hidup tetap dinamis dan penuh warna.
Warung pecel lele di simpang Palakali itu masih ramai. Padahal isi etalase sudah berkurang separuh. Bangku penuh, yang berdiri menunggu pesanan juga banyak. Ari menumpang duduk di bangku dekat kumpulan tukang ojek. Seorang pengojek iseng bertanya, "Suaminya haji ya bu".
Memang kami datang selepas shalat Isya, dan aku tak lagi mengganti seragam shalat: peci putih, baju pakistan selutut lengkap dengan salawar sewarna. Kami pun terbahak, ketika Ari menceritakannya di perjalanan pulang.
Begitulah, masyarakat memiliki persepsi terhadap pakaian. Bu Toyib tetangga kami, pernah menanyakan apakah artis Feri Salim muallaf. Pasalnya saat menjadi juri kontes Dangdut Mania di TPI, pesohor berdarah tionghoa itu, melilitkan sorban di lehernya. Ah, gimana pula komentar si Ibu kalau dia nongkrong di Citos atau pusat hedonisme Jakarta lainnya. Ia akan bingung melihat cewek-cewek lehernya tertutup rapat sorban, tetapi pahanya kemana-mana karena celana pendeknya kependekan. Mungkin dia akan bilang, "Jauh-jauh ke Mekkah, kok pamer aurat".
Sorban dan peci memang terlanjur sebagai penanda kehajian. Dulu, waktu di Inggris, aku juga kaget melihat banyak orang yang memakai sorban, tetapi dandanannya tidak sesuai. Pakai tank top yang mengkerut, tetapi bersyal-kan sorban. Setelah aku telisik, rupanya sorban dijual di toko army look. Usut punya usut, rupanya sorban itu identik dengan perlawanan kemapanan, mengambil spirit Arafat dan PLO-nya.
Tapi disini, komodifikasi dunia mode itu menjadi berlebihan, sebab itu tadi, ada anggapan umum yang terlanjur melekat. Sudahlah, mode memang diluar dugaan kok. Ya gak Kang Haji?
 Tak ada tangis pada Micahel Ballack. Mungkin bagi Kapten Tim Jerman itu, airmata terlalu murah bagi lelaki yang berdarah-darah dalam sebuah pertempuran. Atau boleh jadi, air mata hanya menambah perih luka di atas mata, akibat benturan dengan Senna, pemain Spanyol.
Sementara Podolski melangkah kuyu menjauhi lapangan. Ini kontras dengan FernandoTorres dkk yg hanyut dalam kegembiraan. Joachim Low serupa. Ia menyalami anak buahnya dengan takzim dan penuh duka. Sementara Pak Tua Aragones memeluk squadnya dengan sukacita. Sungguh kontekstual. Spanyol 1 Jerman 0.
Suasana pilu itu adalah masa sulit bagiku. 22 orang yang sama-sama memburu bola, berakhir dengan dua suasana bersilih. Suka dan duka. Bukan karena melankolis, aku tak tuntas menyaksikan kegembiraan itu. Mataku sepet, sehingga momen menjijikkan, bertukar kaos penuh keringat, kulewatkan.
Tak ada yang mengenang nomor 2, begitu kata Aragones membakar semangat Casillas cs. Tentu saja itu hanya untuk kepentingan memburu gelar juara. Pastilah Ballack dikenang. Pun Fatih Terim, pasukan van Basten dan semua peserta Piala Eropa. Selama hampir sebulan, mereka menyajikan hal berbeda dari keseharian yang mengundang sumpek dan pelik.
Ketika Enrique Iglesia melantunkan "Can You Hear Me" sebagai penuntas kejuaraan, terbayang lagi antri BLT, demo BBM, harga-harag melambung, elpiji naik, tol naik. Aku pun menjawab Enrique, aku mendengar tangismu dari sini. Aku dengar. Tapi aku hanya bisa mendengar.
Sekejap mata saja kasip, motor yang menyalip tajam itu pasti terlempar. Beruntung sopir angkot S15A yang kutumpangi, memendam rem dalam-dalam. "Ngantuk aku, abis nonton bola langsung narik", jelas sopir tapa ditanya. "Untung menang cepek," lanjutnya tersenyum puas.
Aha, itulah demam bola Piala Eropa yang sedang melanda. Ada begadang, ada "Arisan" (bukan judi, karena kata Wak Haji Oma, judi itu bikin merana, arisan bisa bikin kaya), ada hiburan. Entah ada manfaat lain, semisal gairah untuk meningkatkan mutu persepakbolaan tanah air. Ada nada pesimis, jika berharap jauh ke prestasi. Maklum bos PSSI tetap saja memimpin meski sudah di penjara. Padahal esensi olahraga adalah spotivitas. Lihatlah bagaimana permainan sepakbola itu berjalan dengan tingkat kepatuhan kepada garis, titik, hingga pengadil. Saking tegasnya para wasit, sampai korps baju hitam itu disindir bak "Tuhan Berbaju Hitam". Padahal mereka tetaplah manusia, yang tak luput dari tipu-tipu diving.
Ketegasan pengadil itu, diperoleh karena mereka berusaha tegas diatas aturan. Maka, pelatih Austria dan Jerman pun diusir dari lapangan hanya karena berani mendebat wasit. Padahal, di tribun ada Kanselir Jerman, Angela Merkel. Angela pun tidak menggunakan kuasa untuk mengatasi kuasa wasit.
Entahlah di luar stadion coach Joachim Loaw menelpon Kanselir Angle Merkel: + Hallo Mbak Angela, bisa gak kita atur wasit yang memimpin orang kita saja. - Jadi begini, begini Mas Joachim.... Kita skenarionakan begini.. + Good, very good.. - Tapi, hati-hati lho, mbak sudah baca Rakyat Merdeka... Lho..lho ini Mbak Angela Merkel atau Cici Ayin sih...
Perlahan dan ketakutan, aku menyeberangi jalan di depan kantor. Aku ingat Udin dan Hariyadi. Jalanan itu sudah dilengkapi slower dan lampu kuning kedap kedip, tapi laju kendaraan tiada mengurang. Mungkin perlu "merusak" jalanan, sebagai kekuatan pemaksa. Ah, biarlah itu urusan penguasa.Hups, selamat juga tiba diseberang. Disana aku bertemu Ibu Kantin, yang juga menunggu angkot. Ia menuju Gang Seratus, beberapa ratus meter dari stasiun Tanjung Barat. Kami naik angkot S15A, Taman Mini-Ragunan. Kami pun berbincang berbagai hal. Sewa lapak di kantin, pengunjung yang berkurang, sampai harga-harga yang meroket. Tentu ongkos yang naik sepihak, meski pemerintah belum menetapkan tarif resmi. "Pemerintah gak naik angkot kali ya pak, makanya terlambat netapinnya", katanya. Menjelang Pasar Rebo ia bersiap turun. Tadinya aku kira dia akan turun di bawah jalan layang Tanjung Barat, lalu menyambung arah Depok, seperti yang aku lakoni. "Biar hemat, pak" kilahnya. Rupanya ia punya kalkulasi jitu. TPI-Pasar Rebo 2500 perak, Pasar Rebo-Gang Seratus 2500 perak juga. Kalau sampai Tanjung Barat 3500 dan nyambung lagi 2000. "Lumayan bisa hemat 500 pak". My God!. Sampai angka 500, dimana sebatang rokok pun tak dapat, ia pertimbangkan. Bagi mereka yang ngopi saja 20 ribu, kongkow menghabiskan ratusan ribu, tentu saja hemat ala Gang Seratus ini tak masuk akal. Tak heran pemerintah terlambat membenahi angkutan publik, sebab penggunanya masih banyak yang tak memikirkan keamanan dan kenyamanan itu. Murah dulu, nyaman kemudian.
  It's Friday, It's Batik Day Yup, Friday is Batik Day di liputan TPI. Setiap jumat, bisa lebih sepuluh orang yang mengenakan batik. Ada yang heroik bilang, ini sesuai semboyan TPI, Makin Indonesia, Makin Asyik.
Bagiku, berbatik setiap jumat hanya kepraktisan belaka. Komposisi jumlah kemeja dengan shirt sungguh tidak berimbang. Maklum, saat di GATRA/GAMMA dulu, pakaian wajib kaos. Lalu di MetroTV seragam dibagikan. TPI membolehkan memakai Polo-Shirt. Tetapi, kata ustaz sewaktu aku Ibtidaiyah dulu mengajari, kalau shalat Jumat pakailah pakaian terbaik. Nah, batik pun menjadi pilihan, karena harganya yang relatif terjangkau.
Akhir-akhir ini, pekerja perempuan pun berbatik ria. Tadinya aku kira, ini berkah Seabad Kebangkitan Nasional. Nggak taunya lagi trend. Pas nonton Empat Mata, pesohor Cathy tampil dengan batik trendy, yang saking modisnya membuat ia kesusahan menutupi bagian lutut.
Meski ikut trend --sehingga kemungkinannya sesaat saja--, pemakaian batik dalam keseharian, patutlah diapresiasi. Sebelum ada kelompok lain yang mengklaim sebagai pemilik sah. Tentu bukan karena kata Deddy Mizwar: "Bangkit itu marah... Marah karena martabat bangsa dilecehkan.."
Warna biru yang mendominasi lantai ruang ICU Rumah Sakit Siloam Gleneagles, tak sebersit jua menyejukkan. Pun kursi empuk di ruang tunggu, tiada melenakan. Maklum keberadaan kami disana untuk menunggu orang sakit.
Tak banyak yang bisa dilakukan di koridor dingin itu. Satu-satunya wahana komunikasi dengan ruang operasi, hanya layar komputer yang men-display informasi umum: operasi sedang berjalan, atau pasien pindah ke ICU. Selebihnya senyap.
Ya, Sabtu itu kawan Haryadi, kolega di Gatra, Gamma, hingga METRO TV sedang berada di ruang operasi. Ia mengalami gegar otak parah, akibat ditabrak pengendara motor di Banjarmasin sana, empat hari sebelumnya. Malam itu, Hariyadi yang sedang cuti bersiap pulang ke Jakarta. Sebelum pulang, ia makan malam dengan teman lama. Pas mau pulang ke Martapura (45 menit dari Banjarmasin), motor durjana tanpa lampu, yang ngebut di kegelapan kota yang dilanda pemadaman menghempaskan Hariyadi ke trotoar. Itulah terakhir ia sadar. Setelahnya mengerang pun ia tak mampu. Ia tak tahu, terbang begitu jauh dengan pesawat pribadi dari Banjarmasin ke Tangerang.
"Kok ketabrak motor aja iso kayak ngene adekku," ratap kakak Hariyadi melihat adiknya pasca dioperasi. Sulit membayangkan bagaimana tabrakan itu terjadi, jika mengacu kepada kondisi Hariyadi yang masih koma sepekan setelah ditabrak. "Pengen rasanya ngongkosi si penabrak biar bisa lihat akibat perbuatannya," kata seorang teman. "Ngapain, mending duitnya buat terbang ke Banjar dan nyelurit pelaku," kata teman lain yang besar di ujung Timur pulau Jawa.
Ungkapan emosional yang wajar, jika melihat kondisi Hariyadi yang memilukan. Para motoris, bersabarlah. Semua pengguna jalan bergegas, tapi punya hak yang sama. Sadarlah, akibat kesalahan kecil, ada keluarga lain yang mengalami gangguan moral dan finansial.
Celah sempit yang dimasuki angkot S15A itu, disambut dengan klakson bertubi. Si sopir bergeming, malah menambah kecepatan. Ibu2 yang duduk di pintu keluar memegang erat bungkusannya. Entah apa yang membuat sopir ini menyetir menggila. Padahal penumpang lumayan banyak, dan tidak ada angkot sejenis, dua hal yang menjadi alasan sopir mengabaikan keselamatan penumpang.
Semua penumpang hening. Seolah sadar, kita sedang menumpang. Bayaran itu hanya uang penitipan nyawa kepada sopir, karena telah menjaga nyawa kita selama perjalanan. Nanti di tujuan, nyawa itu diambil lagi dan dibayar dengan uang titipan.
Di pertigaan Hek, lampu masih kuning sopir sudah melaju sebat. Tentu saja disambut klakson dari arah lain yang melihat lampu kuning sebagai sinyal "buru-buru". Setelah melampaui pool taksi Blue Bird, sopir berhenti tiba-tiba dan turun. "Kebelet", katanya tanpa menoleh.
Oalah pak, gara-gara kebelet, nyawa orang dikorbankan. 5 menit, 10 menit sopir belum muncul. Seorang bapak turun dan pindah angkot lain. Aku tergoda juga untuk turun. Eh, si sopir muncul dari bawah jembatan. Sambil menyeka pelu dengan ujung kemeja lusuh, membenahi celana, ia berlari menuju angkot. "Lega pak," goda anak muda yang sibuk main sms. Si sopir menjawab dengan senyum. "Mulai Pasar Rebo udah gak nahan," lanjutnya. Ada yang tertawa, ada yang hanya mesem2 saja. "Seumur hidup baru kali ini saya nyetir sambil kebelet" "Seumur hidup baru kali ini saya ditinggal sopir yang kebelet", tukas si Mbak yang sedari tadi menatap jam.
Aha, indahnya dunia.
Apa yang terjadi di Rabu malam pekan lalu itu. Jawabnya muncul hari ini. TPI menempati urutan ke-3 dalam urusan rating dan share. Pendongraknya, Dangdut Mania Dadakan, lomba berdendang pedangdut amatir. Malam itu, secara statistik 32 persen pemilik tipi di Indonesia memirsa Dangdut Mania Dadakan 2 itu. Acara itu pula yang memuncaki seluruh acara tipi dalam sepekan lalu, dari sudut share.
Benarlah apa yang dikisahkan Mbak Mini, bedinda kami di rumah. Keesokan hari setelah final DMD itu, ia masih cekikikan saat menceritakan kelucuan Ela, sang juara. Kelatahannya saat dikerjain, kesedihan nasibnya. Justru bagian itulah yang dikritik KPI, sebagai sikap yang memojokkan. Tapi inilah fakta. Ditengah jepitan harga-harga yang melambung, menertawakan nasib orang lain, bak kanal bawah sadar menertawakan diri sendiri belaka. Inilah kemampuan bangsa ini yang paling mumpuni, mengatasi keadaan.
Dan dangdut, yang oleh sebagian orang dicap kampungan, bisa menjadi pemersatu rasa frustrasi itu. Itulah nasionalisme baru. Selain rokok dan kopi, tentu saja. Tak heran, penjaja kopi jalanan, berbekal kopi sase, gelas plastik bekas, ramai dimana-mana. Begitu pula rokok. Adakah di negara maju penjual rokok ketengan. Bagi sebagian masyarakat adat, rokok justru menjadi bagian dari kekerabatan. Dalam khasanah Batak, ada terminologi manyurduhon sigaret, sebagai wahana keakraban dan penghormatan.
Jadi ditengah kritik kepada dangdut yang berselara "rendah", rokok dan kopi yang tidak menyehatkan, ada semacam aras kebersamaan disana. Kebersamaan orang kecil yang terhimpit. Sudah dulu, aku mau membakar 234, menyeruput kopi hitam, dan mendengar dangdut dulu.
Air mata Syamsul Arifin menetes deras. Sambil mendaras doa-doa, aa sesenggukan. Entah kaget atau bangga, ia bisa memenangi Pilkada Sumut. Bupati Langkat yang diusung PKS, PPP, dan PBB mengungguli empat pasang calon Gubsu lainnya.
Sekali lagi PKS, menjadi pembunuh raksasa. Partai Golkar yang mengusung Umri-Maratua ada di nomor buncit. Jago PDIP, Tritamtomo dan Benny Pasaribu memang bisa memepet Syamsul.
Pilkada Sumut memberi banyak arti, dilihat dari keragaman asal usul. Tak hanya partai, agama, dan suku menjadi faktor penting dalam warga Sumut yang heterogen. Heterogenitas itu membuat Sumatera Utara sulit menentukan identitas. Lihatlah bandara yang tetap bernama Polonia, pelabuhan yang tetap Belawan, seolah Sumut tak punya pahlawan saja.
Tapi, Ini Sumut, Bung! Keragaman itu tak harus diributkan. Nyaris tak ada keributan berbasis agama dan suku disana. Padahal, dua ormas pemuda kental kesukuan dan keagamaannya. Pemuda Pancasila, diketuai Islam dan Melayu. Lalu ada Ikatan Pemuda Karya (IPK) yang dikomandani Batak Kristen. Tapi jawab mereka, "Preman tak beragama, Lae".
Nah, PKS diunggulkan dengan identitas homogen: Islam. Apalagi sekutunya PPP dan PBB memiliki identitas serupa. Faktor Pujonugroho, sesepuh Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), generasi kesekian orang Jawa yang datang ke Deli sebagai kuli kontrak kebun tembakau, tak bisa dianggap kecil.
Satu lagi, partai yang berseteru dalam menentukan jago, menjadikan mesin PKS lebih efektif. Golkar mengusung Ali Umri-Maratua Simanjuntak (Nomor urut 1), padahal ketua DPD Golkar-nya Wahab Dalimunthe (nomor urut 4) yang harus mencari motor ke Partai Demokrat. Nah, Demokrat khan punya RE Siahaaan (Walikota Siantar, nomor urut 3), yang harus minjam PKB, PDS, dan partai gurem lainnya. Belum lagi, PDIP yang --entah kenapa demen sama militer-- menjagokan Mayjen (purn) Tritamtomo (nomor urut 2), padahal ketua DPD PDIP Sumut Rudolf Pardede (kini Gubernur Sumut) juga ngebet naik lagi.
Setelah Jawa Barat, PKS kembali menunjukkan taji, bahwa di 2009 bukan lagi anak bawang. Apalagi pak Hidayat baru saja memenuhi syarat harus punya ibu negara, dengan menggandeng bu Dokter Diana. Selamat pak Hidayat, eh PKS..!!!
Judul tulisan ini semestinya "Si Jojo Wagub Kita". Plesetan dari "Jendela Rumah Kita", sinetron jadul yang dibintangi Dede Yusuf tahun 1990, era tipi partikelir belum nongol. Namanya jadul, tentu banyak yang belum menikmati sinetron, dimana Dede Yusuf berperan sebagai Jojo, remaja baik2 dan jagoan.
18 tahun kemudian, si Jojo itu sudah menjadi orang kedua tatar Pasundan. Dede yang berpasangan dengan Ahmad Heryawan, mengungguli kandidat incumbent Danny Setiawan, dan Agum Gumelar (Baca: Hade Teratas). Pasangan yang sama2 berusia 42 tahun itu, unggul tipis dari Agum-Nu'man yang sedari awal unggul diatas kertas. Maklum Agum didukung PDIP dan PPP yang mendulang banyak suara di pemilu lalu. (Klik: Agum terpopuler)
Tapi ini pemilihan langsung, Bung. Keartisan Dede banyak menolong. Sama dengan fenomena Rano "Si Doel" Karno di Tangerang. Meksipun analisa asal2anku, kekalahan Agum karena mengabaikan aspirasi akar rumput. PDIP tiba-tiba beralih dari Rudy Harsya Tanaya, Ketua PDIP Jawa Barat. Boleh jadi, mesin politik lapis bawah jadi mandek.
"Aduh, di DPR Dede diam aja gituh..", celetuk seorang teman. "Biarin deh, yang jelas dia belum pengalaman korupsi" timpal yang lain.
Nah, inilah poin penting sebenarnya. Korupsi sudah terbukti jadi borok yang menyakiti sendi ekonomi dan kehidupan. Jika kemenangan ini, karena kebosanan terhadap korupsi, maka semboyan "Harapan Baru Jawa Barat" yang diusung HADE, akan mudah terwujud. Ayo Jojo, ciaattt.....
Jika untuk menyeberang saja kita kesulitan masihkah kita memerlukan pemerintah? Tadi malam aku menjawab TIDAK..!!!
Jarum jam hampir menapaki angka sepuluh. Aku terburu. Pukul 10, "park and ride" stasiun Pondok Cina, tempat aku menitip motor tutup pada jam itu. Artinya aku harus menginapkan motor dengan biaya tambahan, dan naik ojek ke Kukusan, dengan biaya tambahan pula. Syukurlah 10 menit menuju pukul 10, angkot tiba di jalan Kapuk. Margonda yang disiram gerimis, sudah mulai sepi. Tapi ini justru merepotkan menyeberang. Mobil dan motor memanfaatkan jalan kosong untuk ngebut. Ugh... Butuh lima menit, berjalan menyusuri kampus Gunadharma, untuk sampai ke stasiun Pocin. Adu peruntungan pun dimulai. Membaca situasi. Mengukur celah. Dan terpenting adalah nasib. Sebuah angkot yang berhenti agak ke tengah, membuat arus di belakangnya agak tersendat. Uppss.. sebuah motor menyalip dengan sebat, nyaris menyambar tungkaiku. Satu lompatan ke pulau jalan, menyelamatkanku.
Memang aku menyeberang tidak di zebra cross. Tapi apalah artinya penyeberangan itu selain hiasan, atau malah proyek belaka. Di jalan yang membelah pusat belanja Detos dan Margocity, polisi sengaja memasang tenda khusus penyeberang. Apa lacur, penyeberang tak merasa itu penting, sehingga tetap saja menyerobot. Setali tiga uang, pengguna kendaraan pun tak menganggap pejalan kaki juga berhak atas jalanan. Lambat sedikit, klakson pun akan bertalu, seolah menunjukkan pemilik mobil (juga motor) adalah sekelas di atas pejalan kaki. Sebuah penindasan atas sesama, atas nama buru-buru.
Terkadang aku bersyukur jalanan rusak dan macet. Sebab hanya saat itulah menyeberang bisa dilakukan tanpa dag dig dug. Tapi itu pikiran jahat. Mungkin ada baiknya membuat slower yang ekstrim. Tidak cuma polisi tidur, tapi membuat lubang sedalam 20 sentimeter, diisi air dan kerikil. Kalau tetap ngebut, alamat basah dan terguling. Ah, itu hanya usul gila tak punya daya. Sama dengan tulisan ini, catatan ringan angin-anginan. Hidup Pilkada!!!...
Ari menelpon dengan riang gembira. Ia sedang berada di halaman rumah kenangan kami, di Gloucester Street, Norwich. Di rumah itulah, selama setahun (September 2004 - 2005) kami tinggal saat Ari menyelesaikan program S-2. Rumah bernomor 54 itu tidak berubah sama sekali. Pintunya tetap berwarna hijau. Jalanannya pun begitu. Aku teringat ketika kuliah di Bandung, tulangku yang bertugas di Kostrad Cilodong, kebingungan mencari rumah kosku. Soalnya ia ngotot tidak mau mencatat alamat, karena yakin dengan ingatan. Dari Simpang Dago, masuk ke Tizi's, lalu berbelok di rumah yang ada pohon jambu air. Ternyata sejam berputar-putar ia tidak menemukan pohon jambu itu. Sebab disana sudah ada kamar kost baru.
  Gloucester Street, Norwich, 2008 dan 2004 Klik pada foto untuk koleksi lainNah, Norwich dan kota-kota Inggris lainnya sukses menjaga keabadian. Balaikota, gereja, stasiun kereta tetap tua. Tua-tua keladi tentu saja. Aturan yang ketat, membuat pembangunan tidak bisa hantam kromo. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dijalankan secara ketat. Pangreh praja tak ngiler melihat duit dan membiarkan tata kota karut marut. Warga pun tidak mengatasnamakan HAM mengokupasi setiap jengkal lahan tidur. Jadi, keabadian itu hasil dari kesadaran kolektif dan berkelindan. Dan yang penting paradigma pembangunan. Ketika pulang dari Inggris dulu, para kerabat bertanya "seramai apa Inggris", dan mereka bengong saat aku tunjukkan foto-foto kelinci berkeliaran, lapangan bola bertebaran, air sungai berkilauan. Bayangan mereka, keberhasilan pembangunan adalah: lahan kosong harus disulap jadi bangunan dan jalan. Maka, janganlah teriak ketika bangsa tempe yang mengaku negeri agraris itu harus mengimpor kedelai. Bilang saja itu buah pembangunan. Menjelang tidur, aku sms Ari: Selamat menikmati dunia yang bergerak perlahan. Anggap sedang detoks dari kemacetan dan polusi Jakarta. Cup.
Gerimis mulai menitik pelan. Pengantri yang dekat dengan emper, beringsut merapat. Aku mengintip ke bagian dalam ruang ATM, lelaki yang sedang dapat giliran berdiri membelakangi mesin. Pastilah ia tak tau diluar hujan sedah menetes.
Mengapa ia tak segera keluar. Aha.. ia sedang menghitung duit rupanya. Karena jumlah penarikannya tak kecil, ia butuh waktu agak lama. Sungguh nasabah yang teliti. Aku termasuk golongan yang prcaya begitu saja, mesin ATM itu diset jujur. Lagipula, kalau kurang, mau mengadu ke siapa?
Lelaki itu pun keluar. Ia melengos begitu saja, padahal gara-gara dia sejumlah pengantri sudah mulai kuyup. Itu hanya salah satu pengalaman di bilik ATM. Selama 8 bulan, terakhir nyaris setiap hari aku masuk bilik baik budi itu. Maklum, aku pemborong sekaligus konsultan pembangunan Sopo Godang. Aku mengurusi sarapan hingga gaji bulanan. Aku juga yang membeli saniter sampai ember.
Balik ke bilik ATM. Jarang sekali aku melihat ada keramahtamahan disana. Saat meninggalkan pintu ATM, untuk berganti dengan yang lain, tak ada pintu yang sengaja ditahan. Beberapa kali, aku menahan pintu untuk memberi ruang orang masuk, tak ada terimakasih atau anggukan.
Di jalan raya pun begitu kok. Jika pemeo, bahwa keramahtamahan bangsa dilihat dari sopan santun di jalan raya, entah sebutan apa yang pas buat bangsa ini.
   Klik pada foto untuk pembesaranSuara cicit burung menemani ritual pagiku, membaca koran. Tapi tak ada kopi, sebab pagi buta tadi, tetangga sebelah sudah datang mengantar susu murni. Niatku untuk menggerakkan badan tertunda, sebab tanah merah di halaman samping tergenang sisa hujan semalaman. Rumput yang baru ditanam beberapa hari lalu, belum mampu mengimbanginya. Tak lama, Ari memintaku jadi tukang ojek ke stasiun Pondok Cina. Awal pekan ini, kami memang sudah tidak lagi di jalan Kober, kontrakan yang kami tempati enam tahun terakhir. Kami mandah ke Kukusan (baca: Di Kukusan Mampir Ngumbe), menempati sebuah rumah sederhana, jelek-jelek milik sendiri. Rumah itu belum paripurna, ketika kami tempati. Tetapi, kontrakan sudah habis, dan kami tak mau digusur tanpa uang kerohiman. Lagi pula, "Kalau nunggu selesai, kapan Mamak ke Jakarta", kata ibuku yang kini berkunjung. Begitulah, kami pun tidur berteman debu dan bau cat. Pagi dan malam hari menjadi suasana tenang, sebab tukang belum mulai atau sudah selesai. Semua serba terburu. Pagar belum sudah, padahal informasi tetangga nyaris semua penghuni baru mendapat percobaan jahat. Kami pun memasang alarm. Karena harga yang murah, alat itu suka berbunyi di tengah malam sunyi. Tak ada infiltran, hanya kucing melintas.
Suasana amburadul semakin lengkap, sebab lemari yang belum jadi, membuat pakaian tetap berada di koper atau kardus. Hmm, ternyata 8 tahun menikah harta kami sebagian besar buku saja.
Bagaimanapun, delapan bulan yang melelahkan, memusingkan, sekaligus menyenangkan itu sudah berbuah. Bismillah, Allahumma anzilna munzalan mubarokan, waj' al baytana jannatana.
  Suara mesin sayup terdengar, meningkahi ketokan palu. Sesekali sesama tukang meneriaki temannya. Selebihnya sepi. Tukang yang diawal dulu 15 orang, kini tinggal berempat. Pengurangan ini tentu sejalan dengan volume dan intensitas pekerjaan yang semakin sedikit. Ini adalah pengurangan kesekian. Tapi tetap saja aku sedih. Kebersamaan berbilang bulan, meski tak akrab sangat, tetap menyisakan kehilangan.
Aku tergolong terlambat memutuskan pengurangan. Meski volume pekerjaan sudah lama berkurang, aku bergeming. Mereka membanting tulang, betul-betul untuk sesuap nasi. Ada yang menghidupi orang tua yang janda. Ada pula yang membantu sekolah adik. Hampir setiap dua pekan, dua hari setelah gajian mereka sudah meminta uang makan. Uang yang dikumpulkan dengen memerah tenaga itu sudah terkirim ke kampung.
Merekalah yang malu sendiri, tak bekerja penuh, sehingga meminta pulang saja. Itu membuatku merasa jadi orang paling beruntung saat ini. Bayangkan jika aku seorang petinggi. Maka selamatlah anak buahku yang melakukan kesalahan. Sebab aku belum tentu tega memecatnya.
Selain merasa beruntung, aku juga kagum sama Rano "Si DOEL" Karno. Ia berani jadi pejabat. Padahal dunia nyata berbalik dengan dunia panggung. Banyak Babe Ben yang hidup dengan seadanya tapi ingin anaknya memperoleh pendidikan bermutu. Banyak Mas Karyo yang menunggak kontrakan. Banyak pula Bang Mandra, yang buta aksara tetapi ingin mengikuti kemajuan zaman.
Tegakah kau Doel, menggusur opelet yang bikin macet. Tegakah kau menggusur warung Mak. Atau kau akan mendua, seperti saat memutus cinta Zaenab? Eniwei, selamat berkarya Bang Doel...!!!
   Tulisan ini dimuat di Koran SINDO, 30 Desember 2007NASI lemak siang itu lebih nikmat dibanding di Malaysia sekalipun. Meski uba rampe-nya tak lengkap, menyantapnya nun jauh di Belfast, Irlandia Utara, memberikan rasa berbeda. Restoran Istana Malaysia itu berada tepat di jantung Kota Belfast, tepatnya di jalan menuju kawasan Queen University of Belfast. Pelayan restoran terperangah ketika aku utarakan keinginan melihat mural, gambar dinding di Shankill Road dan Falls Road. Dengan bahasa Melayu yang fasih, dia memintaku membatalkan bepergian ke dua kawasan “bergolak” tersebut. Aku menanyai pegawai hotel. Barangkali pelayan restoran tadi melarang karena solider sesama puak Melayu saja, tapi ternyata pegawai hotel pun bersikap serupa. Namun, tekadku sudah bulat, harus ke sana. Kususuri jalan menuju pusat kota, mencari informasi lain. Lalu lalang jeep polisi berwarna putih dengan kaca dan lampu dikerangkeng seperti yang ada di film In the name of the Father, sedikit membenarkan larangan tadi.Apalagi, pengumuman yang terpajang di sejumlah toko bahwa toko bisa sewaktu-waktu tutup jika terjadi gangguan.
Akhirnya, aku memutuskan menggunakan bus khusus tur keliling kota, city sightseeing. Rute bus tingkat dengan atap terbuka itu mencakup historic tour, Titanic tour, dan political tour. Bagian terakhir inilah yang akan melewati mural dan dinding perdamaian, yang menandai kota ini pernah dilanda konflik berdarah. Melintasi Sungai Lagan, mengingatkanku akan Krueng Aceh... <Lengkapnya DISINI>
Berat memang, menjadikan kenangan buruk sebagai artifak dokumentasi kehidupan. Namun, tanpa itu pun, riwayat tak akan pernah lekang dikunyah gerigi waktu. Justru dari sinilah,banyak pelajaran bisa dipetik,agar tidak terjerembab ke jurang serupa. Buah manis dari konflik di Belfast adalah rumah sakit bedah dan kajian trauma konflik yang tersohor di Inggris Raya.
 Sopir pengantar batu alam itu memandang kagum deretan tembok. Mungkin ia mengagumi tumpukan batu yang ia kirim, sudah terpasang elok. Melihat si sopir terpana, Oom Gie, mandor proyek, bungah dan mengajak masuk. Agaknya ia mau menunjukkan bagian lain dari Sopo Godang.
Di bagian dalam, fokus perhatian sopir adalah tangga. Si Oom pun menimpali: "Seumur saya jadi tukang, baru kali ini saya ngerjain tangga model begini". Si sopir pun menyahut: "Pasti yang punya rumah arsitek atau bernilai seni tinggi". Hah. Dia menyampaikan itu di depanku, sang pemilik rumah. Si Oom yang tidak enak hati menukas: "Bapak ini yang punya", sambil menunjukku. Gantian si sopir yang tidak enak hati. Ia pun pamit.
Tak apa. Bukan sekali ini aku "diperlakukan" seperti itu. Si sopir tentu tak salah. Saat itu, aku hanya bercelana pendek, dan berkaus kusam sobek di beberapa bagian. Gaya serupa, yang membuatku ditolak toko material milik pribumi, waktu aku mengajukan sistem pembayaran sepekan sekali. Penolakan yang wajar, siapa pula yang sudi mengutangi orang berpenampilan tidak meyakinkan.
Bukan si sopir dan tukang material saja yang suka memberi penilaian berdasarkan penampilan. Aku pun demikian. Aku tak yakin Presiden, Menteri, Gubernur, atau Bupati rela menolong korban bencana, hanya karena mereka mendatangi lokasi pengungsian masih lengkap dengan safari. Bagaimana mereka mau berkubang lumpur dengan pakaian mahal itu. Tetapi aku tak jujur, aku lebih menyukai pramugari dengan rok berbelahan tinggi, padahal mana mereka sigap menolong penumpang dengan gaya macam itu.
Jadi, jangan menilai isi dari kulitnya. Rambutan merah belum tentu manis tho.
Aku baru usai mandi pagi, ketika teleponku berdering riuh. Nomor yang tak kukenal. Aha, teman lamo tak basuo. Ia menanyakan alamat email, karena ingin mengirim sesuatu. Penasaran, aku buka email lewat bantuan GPRS di HP. Karena attachment, aku tunda membaca isinya. Tapi tak lupa, aku balas sambil mengucap terimakasih dan salam jumpa. Tak lama, ia sms: kamu blogger juga Tief. Agaknya ia melihat signature yang mencantumkan situs ini, dan alamat blog. Ah, aku hanya blogger kacangan. Itu perlu kusebut, khawatir ia mengira aku seperti blogger lain yang menasional lewat pemberitaan media usai sebuah perhelatan nasional lalu. Kategori blog-mu apa. Aku gelagapan sesaat. Karena ini hanya "catatan ringan angin2an". Aku nge-blog setelah masuk dunia televisi. Perbedaan mendasar antara jurnalisme cetak dalam volume menulis, membuatku butuh saluran. Maklum, bagi kami wartawan cetak, menulis untuk tipi istilahnya hanya se-icrit. Jadi aku luput membuat spesifikasi. Aku hanya menulis apa yang aku lihat dan rasakan, tentu saja faktor aku sebagai jurnalis berpengaruh. Berarti blog media dong. Tidak..tidak. Blog media itu catatan penampung tulisan yang tidak termuat di media milik reporter. Karena alasan ruang dan faktor rahasia. Ada media yang memberi ruang di situsnya untuk tulisan reporter seperti Koran Tempo dan Guardian UK. Tentu saja aku menyebut, wartawan yang nge-blog dengan mengirimkan isi medianya, "menyalahi" aturan blog sebagai new-media. Berarti personal blog? Tidak juga. Karena aku membatasi hal-hal personal banget masuk ranah umum. Memang, ada kegiatan aku pulang kampung, kesal kepada penerbangan. Tapi sedapatnya, aku usahakan membahas hal yang mungkin dialami orang lain juga. Pokoknya jauh deh dari celebrity blog. Ya iyalah, kamu kan bukan selebriti Dul. Hahaha, sorry, aku mengkulak terminologi seleb dari infotainment. Disana seleb itu berarti orang yang kegiatannya wajib diketahui orang lain. Saipul Jamil main ke Dufan, Nia Daniati ngepel karena pembantu pulang, Yuni Shara lebaran, Wanda Hamidah nyumbang. Aku sengaja menyebut nama-nama artis yang rajin nongol di layar infotainment padahal karya kesenimanannya nyaris tak terdengar. Ya udah deh, aku udah mau bayar angkot nih. Pokoknya baca aja dulu. Apa pun kategorinya, yang penting menulis. Sebab itu menghibur, sekaligus menyegarkan. Satu hal, ke depan aku akan jarang nge-blog, sebab ada kebijakan baru di kantor: Multiply, Blogger, dan Friendster di-block pada siang hari. Kiri, bang..!!
Tak ada rintik hujan menitik. Tapi orang-orang berkerumun di tenda pinggir jalan, di depan pusat belanja Detos dan Margo City. Mereka memang bukan berteduh dari hujan, tapi penyeberang jalan. Sepekan terakhir, Polres Depok mendirikan tenda penyeberangan. Selain untuk keselamatan pejalan kaki, juga untuk enghindari kemacetan. Penyeberangan yang diatur secara berkala, membuat arus lalulintas terkendali. Tak hanya itu. Polres Depok juga menerapkan angkotway atau blueway di jalan sekitar terminal. Angkot tak bisa semau gue, wajib masuk jalur khusus. Jadi kalau mau ngetem lama, alamat diamuk sama angkot belakang. Sebelum punya Blue way, disebut blue sesuai dengan warna angkot, Depok sudah mempraktekkan Greenway, pengguna jalan dari arah Jakarta menuju Depok diutamakan. Depok memang punya kepala polisi baru, Kombes Imam Pramukarno. Imam berpengalaman lama di bidang perlalulintasan, sehingga kebijakannya berbau penanganan kemacetan. Langkah Imam adalah angin segar mengatasi kemacetan yang semakin parah. Pilihan Imam bertolak belakang dengan usulan pejabat lain yang biasa kita dengar. Beberapa hari sebelum blueway dan tenda penyeberangan dikenalkan, Ketua DPRD Depok mengusulkan pelebaran jalan (baca: Margonda Perlu Diperlebar). Usulan lucu, kuno, dan selfish sebab hanya mementingkan diri sendiri sebagai kelas menengah yang memiliki sederet mobil. Lucu, sebab DPRD selalu sengit mengenai usulan Walikota. Kuno karena penambahan jalan terbukti gagal mengatasi macet. Volume kenderaan yang tak seimbang dengan luas jalan hanya salah satu. Kemacetan lebih disebabkan salah penggunaan, seperti berhenti sembarangan, menyeberang sesuka tempat, dan putaran. Polisi hanya bertanggungjawab terhadap arus lalulintas. Pengetatan izin pendirian gedung, pembatasan jumlah kendaraan, parkir, penataan trotoar, PKL, perbaikan mutu angkutan publik, tanggungjawabnya ada di tangan lembaga lain. Termasuk sang Ketua Dewan tadi. Andai saja langkah Kombes Imam diikuti kebijakan pemangku kebijakan, maka Margonda akan sukses sebagai etalase indah (baca: Pekerjaan Rumah Walikota Depok) kota Depok.
| |